Beranda Airport Eksistensi Bandara John Becker Jadi Jembatan Pariwisata di Maluku Barat Daya

Eksistensi Bandara John Becker Jadi Jembatan Pariwisata di Maluku Barat Daya

BERBAGI
Eksistensi Bandara John Becker Jadi Jembatan Pariwisata di Maluku Barat Daya
DCIM100MEDIADJI_0033.JPG

Maluku, Haloindonesia.co.idIndonesia merupakan kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau yang menyebar di sekitar khatulistiwa. Sebanyak 16.056 pulau telah dibakukan namanya dan sekitar 6.000 pulau tidak berpenghuni.

Salah satu pulau terluar yang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yaitu Pulau Kisar. Pulau Kisar termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Pulau-Pulau Terselatan, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

Pulau Kisar merupakan pulau terselatan dari Kabupaten Maluku Barat Daya karena berbatasan langsung dengan perairan Republik Demokrat Timor Leste. Boleh disebut, Pulau Kisar menjadi salah satu jendela sekaligus etalase Indonesia di mata dunia.

Menjadi salah satu pulau terluar, akses transportasi memegang peran penting dalam menyatukan kedaulatan Indonesia. Salah satunya, peran dalam menyatukan seluruh wilayah Indonesia, berada dalam penerbangan perintis yang dilayani Bandara John Becker.

Jembatan Udara Perintis

Keberadaan bandara yang berkode WATQ (ICAO) dan KSX (IATA) ini, menempatkan eksistensinya menjadi salah satu jembatan udara yang mampu merajut jalinan akses ke wilayah Nusantara. Kini tugas dan tanggungjawab eksistensi bandara kelas III yang dikelola oleh unit pelaksana teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud), Kementerian Perhubungan RI, berada dipundak Martoyo Purwanto, sebagai Kepala Bandara John Becker, Kantor UPBU John Becker Kisar.

Kepala Bandara John Becker Martoyo Purwanto, mengatakan di tahun ini Bandara John Becker melayani penerbangan perintis dengan rute Ambon-Pulau Kisar (Pulang-Pergi atau PP) sebanyak 2 kali penerbangan dalam seminggu. “Mudah-mudahan ke depan, jumlah penerbangan akan bertambah menjadi seminggu 3 kali. Untuk rute penerbangan Kupang-Kisar memiliki jadwal penerbangan 1 kali dalam seminggu dan ke depan akan menjadi 2 kali dalam semiggu,” jelas Martoyo, kepada Halo Indonesia, beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan, sebagai negara kepulauan akses trasportasi udara menjadi salah satu kebutuhan masyarakat. “Fenomena selama saya bertugas di Kantor UPBU (unit pelaksana Bandar udara) John Becker Kisar, pada saat pergantian tahun (musim penghujan) terjadi angin kencang dan gelombang laut besar di wilayah Pulau Kisar,” ujar dia.

Sehingga, menurut Martoyo, pemerintah daerah setempat mengeluarkan warning bahwa transportasi laut dihentikan untuk menjaga keselamatan. “Transportasi udara menjadi salah satu solusi dalam menjawab kebutuhan akses transportasi bagi masyarakat,” tegas dia.

Penunjang Sektor Pariwisata

Di sisi lain, menurut dia, keberadaan Bandara John Becker dapat menunjang dan mendorong pengembangan sektor pariwisata. Ada beberapa destinasi wisata di Pulau Kisar, seperti Pantai Muhidau. “Jika pemerintah daerah setempat mengembangan pantai Muhidau ini maka dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar,” ucap Martoyo.

Selain itu, ada destinasi arkeologi atau sejarah berupa gambar cadas purba telapak tangan tanpa jari telunjuk di Pulau Kisar, Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Penemuan tersebut diduga ada kaitannya dengan okupasi manusia prasejarah di Kepulauan Maluku-Papua.

Hal menarik lainnya, menurut Martoyo, pada saat cuaca cerah dari Pulau Kisar dapat melihat negara tetangga Timor Leste, yang sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Indonesia, yaitu provinsi Timor Timur. “Selain itu, kita juga dapat menjangkau Pantai Seradona yang terletak Pulau Moa, Maluku Barat Daya melalui akses Bandara Moa. Kedua Bandara ini yang menjadi perhatian kami untuk pengembangan ke depan,” tutur Martoyo.

Tentu saja, dengan pengembangan potensi destinasi wisata yang ada dapat meningkatkan demand masyarakat untuk meningkatkan kebutuhan transportasi, khususnya penerbangan di wilayah ini. “Ini merupakan beberapa poin dalam memberikan layanan masyakarat akan kebutuhan akses transportasi, khususnya transportasi udara. Dengan semakin meningkatnya pelayanan akan akses transportasi maka akan berdampak pada peningkatan pengembangan suatu wilayah,” jelas Martoyo.

Untuk itu, dia melanjutkan, kami terus melakukan koordinasidengan pemerintah daerah setempat, khususnya dalam pengembangan bandara, mulai dari Bandara Kisar hingga Bandara Moa. “Bahkan, dengan Dinas Perhubungan Provinsi, kami selalu melakukan koordinasi. Setiap awal tahun, kami melakukan pertemuan di Ambon, Maluku mengenai kebutuhan transportasi, masalah lahan, dan sebagainya untuk melakukan evaluasi,” kata dia.

Dalam meningkatkan keselamatan penerbangan, khususnya dalam menghadapi pandemi, pihak Bandara Kisar melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah Maluku Barat Daya membentuk Gugus Tugas di Wilayah Kecamatan. “Kami berkoordinasi untuk melakukan pemeriksaan penumpang untuk mencegah

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.