Beranda Daerah Jelajah Sungai Mamberamo Hulu, Papua

Jelajah Sungai Mamberamo Hulu, Papua

BERBAGI
Jelajah Sungai Mamberamo Hulu, Papua

Mamberamo, Haloindonesia.co.id –  Umumnya masyarakat asli Mamberamo Hulu sangat bergantung pada kebaikan hati sungai Mamberamo, salah satu sungai terbesar di Papua, membentang dari pegunungan tengah hingga ke pantai utara Papua. Sedangkan suku Wamena yang tinggal di sana lebih memilih berkebun di balik bukit. Mereka bertemu pada hari pasar, Selasa-Kamis-Sabtu, untuk bertukar komoditi. Masyarakat Dabra yang berprofesi sebagai nelayan sungai itu membawa ikan, masyarakat Wamena membawa hasil kebun.

Dengan panjang aliran 670 kilometer dan daerah aliran sungai seluas 138000 kilometer persegi, Sungai Mamberamo pantas dinobatkan sebagai sungai terpanjang ke-7 di Indonesia. Dan jika melihat lebarnya yang mencapai 520 meter-an, sungai ini konon adalah yang terlebar. Cocok dengan namanya Mamberamo, yang dari bahasa suku Dani: mambe berarti besar, dan ramo yang berarti air.

Jelajah Sungai Mamberamo Hulu, Papua

Dari cerita-cerita penduduk, ikan di sini sangat berlimpah. Wajar, disamping kondisinya masih sedemikian alami, nelayan yang ada pun terhitung tak banyak. Conservation Internasional (CI) tahun 2008 melaporkan ada lebih dari 30 spesies baru ditemukan di kawasan ini.

Spesies-spesies baru itu terdiri dari tikus berukuran raksasa atau lima kali ukuran tikus kota, kanguru pohon berbulu emas, echidna berparuh panjang, burung pemakan madu, kanguru pohon berbulu putih, burung elang kecapi, burung punjung paruh emas, burung nuri daun, kura-kura raksasa berkulit halus, spesies katak, kupu-kupu delia, tanaman raksasa, dan palem.

Tak heran bila melewati aliran sungai,  bunyi hewan bersahutan dan berbagai macam burung dengan bentuk dan warna yang unik berkelebatan ditingkah deru suara motor. Ya, sungai Mamberamo dikenal juga sebagai sungai buaya. Ada dua jenis, yaitu buaya muara dan buaya air tawar..Bahkan di desa tertentu ada penduduk setempat yang khusus berprofesi sebagai pemburu buaya.

Bahkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pengoptimalan potensi buaya di Provinsi Papua, khususnya di Mamberamo Raya. Kulit buaya tersebut bisa menjadi bahan baku untuk produk UMKM. Kabupaten ini dialiri oleh tiga sungai besar yang menjadi habitat asli buaya air tawar, yaitu Sungai Mamberamo, Sungai Tariku (Sungai Rouffaer) dan Sungai Taritatu (Sungai Idenburg).

Ada dua jenis buaya yang menghuni sungai tersebut, yakni buaya muara (Crocodile porossus) dan buaya Irian (Crocodile novaguinea). Kedua spesies buaya ini menjadi perburuan bagi masyarakat tradisional Papua, baik sebagai sumber protein untuk dikonsumsi, atau kulitnya dijual kepada pengepul dalam bentuk kulit mentah.

Sejak tahun 2018, Pemerintah Daerah Papua melegalkan pemasaran kulit buaya. Perizinan ini keluar karena kulit buaya dianggap sebagai kerajinan yang membanggakan dan merupakan aset daerah. Walaupun sudah dilegalkan oleh pemerintah daerah, namun ada standar untuk usia buaya yang kulitnya bisa dimanfaatkan yaitu berusia di atas satu tahun atau memiliki lebar perut 12 inchi. Hal ini juga untuk menghindari eksploitasi yang berlebihan.

Lembah, rawa, danau, dan kegelapan hutan Mamberamo masih menyisakan banyak misteri. Masyarkatpun tetap sibuk dengan kesehariannya mencari ikan, berkebun dan berdagang. Sungai Mamberamo tetap mengalir konsisten ke arah utara. Semua masih hidup dengan harmonis.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.