Beranda Frame Komitmen Puslitbang Transportasi Udara Menjaga Konektivitas

Komitmen Puslitbang Transportasi Udara Menjaga Konektivitas

BERBAGI
Komitmen Puslitbang Transportasi Udara Menjaga Konektivitas

Jakarta, Haloindonesia.co.id – Untuk menghubungkan antar masyarakat antar pulau dan wilayah tentu saja membutuhkan sarana dan prasarana dalam menjalin konektivitas. Peran dunia penerbangan dalam menghadirkan konektivitas memiliki posisi yang strategis di Tanah Air.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memiliki tanggung jawab dan peran dalam menghadirkan jasa angkutan udara, baik orang dan barang antar wilayah di Nusantara. Guna memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat, Kemenhub berupaya dalam memberikan regulasi-regulasi di bidang transportasi yang tepat.

Untuk mendukung pelayanan transportasi di Indonesia, terdapat Badan Kebijakan Transportasi yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang bertanggung jawab langsung kepada Menteri Perhubungan. Tugas Badan Kebijakan Transportasi adalah menyelenggarakan analisis dan rekomendasi kebijakan di bidang transportasi. Rekomendasi kebijakan yang dihasilkan diharapkan cepat, tepat, dan manfaat untuk masyarakat luas. Badan Kebijakan Transportasi mengatur semua moda transportasi. Untuk sub sektor transportasi udara, saat ini masih terdapat Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi udarayang dipimpin oleh Capt Novyanto Widadi, S.A.P., M.M.

Perkembangan Industri Aviasi

Pandemi Covid-19 memberi pukulan telak bagi bisnis penerbangan dunia. Sebagian industri penerbangan diperkirakan dapat pulih pada akhir tahun ini, tetapi ada juga yang masih harus berjuang hingga 2024. Bisnis penerbangan di Indonesia butuh waktu lebih panjang untuk pulih.

Momen pandemi Covid-19 merupakan pukulan paling berat bagi penerbangan komersial dunia sepanjang sejarah. Publikasi dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) menunjukkan bahwa pada 2020, pasar transportasi udara secara global turun hingga 60 persen dibanding 2019.

Kerja keras dunia untuk bangkit dari pandemi mulai membuahkan hasil seiring adaptasi masyarakat dunia dengan protokol kesehatan. Wabah yang kian terkendali membuat aktivitas masyarakat kembali bergerak, termasuk dibukanya perbatasan antarnegara. Situasi ini membuat bisnis penerbangan global kembali membaik.

Jumlah penurunan penumpang maskapai dunia pada 2021 berkurang 49 persen dibanding pada 2019. Kondisi ini menunjukkan mulai tumbuhnya penumpang pesawat dunia walau masih jauh dari kondisi normal seperti sebelum pandemi.

ICAO memproyeksikan pada 2022 selisih jumlah penumpang dengan 2019 berada di rentang minus 29 persen hingga minus 33 persen. Apabila tren perbaikan kondisi pasar penerbangan sesuai proyeksi, pada 2024 besar kemungkinan bisnis penerbangan dunia kembali seperti sebelum masa pandemi.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara Capt Novyanto Widadi, S.A.P., M.M., mengatakan, perkembangan jasa angkutan udara di Indonesia sudah semakin meningkat. Industri penerbangan mulai bangkit, tidak hanya dari bisnis langsung angkutan udara tetapi juga jasa dan produk non-aero terkait.

“Sejak awal pandemi di 2020, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Transportasi Udara, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sudah mengkaji kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi terhadap industri penerbangan nasional bersama dengan perguruan tinggi, seperti Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknokogi Bandung (ITB)untuk menyusun strategi recovery dan resilensi penerbangan (airline, airport dan airnav) terhadap dampak pandemi Covid19,” jelas Capt Novyanto, kepada Halo Indonesia, melalui keterangan tertulis, beberapa waktu lalu.

Gandeng Perguruan Tinggi

Capt Novyanto menambahkan, Puslitbang Transportasi Udara didukung oleh akademisi nasional dan dibantu para expertise bidang penerbangan senantiasa melakukan kajian-kajian ilmiah secara tematik untuk membantu pertumbuhan ekonomi nasional dengan mendukung sektor pariwisata dan perdagangan dengan menyediakan konektivitas dan aksesibilitas jasa transportasi udara.

Diantaranya, Puslitbang Transportasi Udara bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) melaksanakan diskusi terarah pada terkait evaluasi bandar udara internasional di Indonesia. Hal ini guna mengevaluasi dan meningkatkan pelayanan penerbangan internasional di Indonesia.

Saat ini, Indonesia memiliki 34 bandar udara dengan label internasional yang perlu dievaluasi untuk meningkatkan pelayanannya. “Bandara memiliki peran penting untuk mewujudkan konektivitas nasional dan internasional yang handal, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah. Dalam mewujudkan pelayaan transportasi udara tersebut, tidak terlepas dari penyediaan sarana dan prasarana yang memadai,” ujar Capt Novyanto.

Lebih lanjut Capt Novyanto mengatakan, bahwa dalam penetapan evaluasi bandar udara internasional yang handal, perlu adanya pertimbangan yang matang dari berbagai aspek. “Kita perlu mempertimbangkan rencana induk nasional bandar udara, pertahanan dan keamanan negara, pertumbuhan dan perkembangan pariwisata, kepentingan dan kemampuan angkutan udara nasional, dan pengembangan ekonomi nasional dan perdagangan,” tegasnya.

Pencapaian Puslitbang Transportasi udara

Menurut dia, pencapaian Puslitbang Transportasi Udara adalah seberapa manfaat hasil kajian yang telah dilaksanakan, dimana beberapa kajian menjadi dasar penyusunan regulasi maupun rekomendasi kebijakan lainnya. “Hal ini juga berlaku di tahun 2022, Puslitbang Transportasi Udara menganalisis isu strategis, seperti konektivitas, tinjauan regulasi/kebijakan, keselamatan penerbangan, SDM, dan pelayanan,” ucap Capt Novyanto.

Banyak inovasi yang telah dihasilkan oleh Puslitbang Transportasi Udara, seperti pengembangan alat windshear detector dan standing water deterctor. “Saat ini, inovasi lebih kepada pemberian rekomendasi kebijakan, misalnya pengaturan terkait pesawat tanpa awak, pesawat ampibi dan waterbase, bisnis helikopter, maupun aksesibilitas dan konektivitas jaringan rute penerbangan,” jelas Capt Novyanto.

Menurut dia, tantangan di bidang transportasi udara yang perlu diantisipasi antara lain kondisi sosial masyarakat, kemajuan teknologi, cyber security, dan perlindungan lingkungan untuk mengurangi emisi global.

Disinggung mengenai keselamatan penerbangan, data menunjukkan Loss of Control in Flight (LOC-I) merupakan penyebab kecelakaan pesawat udara dengan tingkat fatalitas yang paling tinggi yaitu 49 % dari total fatalitas.  LOC-I merupakan kecelakaan pesawat dimana kru penerbang tidak dapat mempertahankan kendali terbang pesawat yang mengakibatkan penyimpangan jalur penerbangan yang tidak dapat dipulihkan (upset). International Civil Aviation Organizarion (ICAo) melalui Document 1011 telah mengeluarkan panduan terkait pelatihan Upset Pevention and Recovery Training (UPRT) bagi pilot.  Mengingat urgensi UPRT terhadap keselamatan penerbangan, kedepannya perluadanya  aturan terkait implementasi UPRT, sehingga maskapai penerbangan memiliki panduan dalam melaksanakan UPRT di maskapai masin-masing.

“Pada akhirnya angkutan udara dengan tetap mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan  akan berkontribusi terhadap konektivitas wilayah yang menghubungkan orang maupun barang (logistik) untuk kesejahteraan masyarakat dan membangun pertumbuhan ekonomi baik lokal maupun nasional,” pungkas Capt Novyanto. (***)

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.