Beranda Goverment Warisan Si Bung dari Ende untuk Indonesia

Warisan Si Bung dari Ende untuk Indonesia

BERBAGI
Warisan Si Bung dari Ende untuk Indonesia

ENDE, HALO INDONESIA – Hawa pagi masih belum meruap. Matahari juga masih malu-malu menampakkan diri. Tapi di lapangan Pancasila, sebuah lapangan yang ada di Kota Ende sudah ramai dengan orang -orang yang mulai menyemut di pinggir lapangan. Hari itu, akan digelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang akan dipimpin langsung oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.

Di dekat lapangan Pancasila, di ujung kiri terdapat tetengger bersejarah. Sebuah pohon Sukun berbatang lima. Dulu, di zaman Belanda masih mengangkangi republik, Soekarno atau biasa dipanggil Bung Karno di buang ke Ende. Dan, selama di asingkan ke Ende, Si Bung kerap duduk merenung di bawah rindang pohon Sukun. Dari renungan itu lantas lahir rumusan yang kelak dikenal dengan lima Sila Pancasila.

Tak jauh dari pohon Sukun, untuk mengenang peristiwa bersejarah itu, dibangun patung Bung Karno yang sedang duduk menyilangkan kaki. Pohon Sukun yang asli tempat Bung Karno merenung itu sendiri sebenarnya sudah tumbang. Tapi pada sekitar tahun 80-an di lokasi yang sama kembali di tanam pohon Sukun yang kini tumbuh subur. Dari pohon Sukun, hanya terhalang pagar, terpisahkan jalan, mata bisa langsung menatap wajah lautan. Tak jauh dari sana, ada pelabuhan.

Sekitar pukul tujuh pagi lewat beberapa menit, Menteri Tjahjo dan rombongan tiba di lapangan Pancasila. Ia datang berpakaian adat khas Ende. Menjelang pukul delapan, saat sinar matahari mulai menghangat sekujur lapangan, upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dimulai. Upacara dipimpin langsung oleh Menteri Tjahjo. Dalam amanatnya sebagai pembina upacara, Menteri Tjahjo mengatakan, bahwa Ende adalah kota dan tempat yang punya nilai sejarah tersendiri. Di kota ini, dulu seorang tokoh nasional diasingkan. Tokoh nasional itu tak lain adalah Bung Karno. Tapi,  meski diasingkan di tempat terpencil,

api semangat untuk membebaskan rakyatnya tak pernah padam. Di Ende, pikiran Bung Karno tak pernah ikut terbelenggu. Namun berpikir dan terus berpikir tentang bangsanya.

“Kita memperingati hari lahirnya Pancasila, harus kita tarik kebelakang bahwa sejarah membuktikan seorang tokoh nasional pernah diasingkan oleh penjajah Belanda di kota Ende ini. Tapi Bung Karno tidak hanya merenung tapi dengan api dan semangat yang ada di tanah Ende ini, Bung Karno bisa melihat detak denyut nafas seluruh Nusantara ini dari Sabang sampai Merauke,” kata Tjahjo dengan suara berapi-api.

Dalam pengasingan, api semangat Bung Karno tak pernah padam. Bahkan di Ende, Bung Karno terus menggali apa yang bisa jadi sumbangsih bagi bangsanya. Dan di bawah pohon Sukun itulah, gagasan besar lahir. Gagasan yang kelak menjadi warisan berharga si Bung bagi bangsanya. Gagasan itu yang kini dikenal dengan lima sila Pancasila.

“Atas karunia Tuhan Yang Maha Kuasa ini beliau bisa menggali nilai-nilai budaya falsafah di seluruh Indonesia ini yang akhirnya beliau rangkai dalam bentuk sila- sila dalam Pancasila itu,” ujarnya.

Dalam pidatonya, tak lupa Tjahjo menyampaikan amanat khusus Hari Lahir Pancasila Presiden Jokowi. Kata dia, Presiden Jokowi mengingatkan seluruh anak bangsa untuk tetap merawat warisan besar Bung Karno yang digali di Ende. Warisan bernama Pancasila yang hingga sekarang terbukti mampu jadi bintang pemandu bangsa Indonesia. Dan  selama 73 tahun Pancasila juga mampu  bertahan. Pancasila tetap  tumbuh meski  didera ombak ideologi lain yang berusaha menggesernya.

“Pancasila  yang digali  dari akar budaya bangsa Indonesia yang majemuk mampu bertahan selama 73 tahun.  Pancasila sudah menjadi rumah kita yang berbhineka tunggal ika dan Insya Allah  sampai akhir jaman. Dan Bapak Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Pancasila akan terus mengalir disetiap denyut nadi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.

Tjahjo menambahkan, Bung karno juga  selalu mengingatkan setiap manusia harus punya imajinasi dan impian. Karena  dengan imajinasi dan impian, setiap orang  akan punya konsepsi- konsepsi, gagasan-gagasan dan  ide- ide. Dan dengan konsepsi dan gagasan itu, setiap orang bisa melaksanakan apa yang menjadi konsepsi dan  pikirannya.

“Itulah impian dan imajinasi Bung Karno pada saat beliau diasingkan di kota Ende yang bersejarah ini. Inspirasi itu muncul, imajinasi itu muncul, konsepsi itu muncul, tidak hanya sekedar bagaimana memerdekakan bangsa ini tapi beliau juga mampu menyusun program semesta nasional pembangunan program jangka panjang,” katanya.

Bahkan jauh lebih dari itu, kata Tjahjo, Bung Karno juga memikirkan dan mempersiapkan ideologi negara. Itu yang kemudian dia jabarkan dalam  sila- sila Pancasila. Karena, Tjahjo mengajak seluruh anak bangsa untuk membangun  imajinasi dan  impiannya. Serta bersama-sama memberi sumbangsih bagi bangsa.

“Kita harus mampu menjabarkan, mengimplementasikan dalam setiap kebijakan politik pembangunan di manapun juga harus berdasarkan dari sila- sila Pancasila itu sendiri,” ujarnya.

Kata Tjahjo,  Presiden Jokowi juga mengingatkan bahwa pendiri bangsa Indonesia datang dari  berbagai latar belakang dan golongan. Tapi mereka punya tekad dan spirit yang sama. Mereka lalu  duduk bersama.,  menetapkan Pancasila sebagai pemersatu perbedaan.  Jadi Pancasila  berperan sebagai falsafah dan dasar negara yang kokoh. Menjadi fondasi bagi tegaknya negara kesatuan.

“Maka kita harus terus bersatu memperkokoh semangat Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Presiden Jokowi juga mengharapkan, hari lahirnya  Pancasila pada 1 Juni ini  harus dimanfaatkan, tidak sekedar momentum pengingat tapi mesti jadi momen untuk memacu. Ini  momen untuk mengaktualisasikan nilai – nilai Pancasila. “Marilah kita amalkan warisan mulia pendiri bangsa untuk kemajuan bangsa dan sekaligus untuk menjadi sumbangsih negara kita kepada masyarakat di dunia,” kata Tjahjo.

Presiden Jokowi juga kata dia, atas nama seluruh rakyat Indonesia menyampaikan terima kasih dan penghargaan serta penghormatan kepada para pendiri bangsa atas warisan luhur mereka kepada NKRI. Pancasila adalah warisan dari pendiri bangsa, khususnya Bung Karno sebagai penggali.  Apalagi tantangan yang dihadapi bangsa ini kian berat dan kompleks.

“Bapak Presiden Jokowi dengan Nawacitanya mempercepat proses pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial. Insya Allah pertengahan tahun ini kita bangsa Indonesia bisa tegak berdiri menyanyikan lagu dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia,” kata mantan Sekjen PDIP tersebut.

Contohnya kata dia, perhatian Presiden Jokowi kepada NTT. Di provinsi ini, Presiden telah membangun beberapa waduk besar. Ini dalam rangka mempercepat pemerataan pembangunan dan kesejahteraan. Sehingga yang maju tidak  hanya di Jawa, Kalimantan atau Sumantera tapi juga di NTT. ”  Tantangan yang palingg penting kita cermati masalah radikalisme terorisme. Dan itu bukan tanggung jawabnya TNI dan Polri saja tapi tanggung jawab kita semua elemen bangsa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat generasi muda,” ujarnya.

Karena itu ujar Tjahjo, semua elemen bangsa harus berani  menentukan sikap siapa kawan,  siapa lawan pada perorangan,  kelompok atau golongan yang ingin merusak dan mengganti Pancasila di republik ini.  Termasuk kepada mereka  yang ingin memporak-porandakan Bhinneka Tunggal Ika, merubuhkan  NKRI dan mengganti UUD 1945. Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI adalah harga mati dan sudah final.

“Mari secara tulus kita mengamalkan Pancasila dalam kehidupan keseharian kita.  Bapak Jokowi juga mengingatkan semangat bersatu, semangat berbagi, semangat berprestasi akan meneguhkan langkah kita dalam membawa Indonesia menuju negara maju dan jaya.  Selamat hari lahir Pancasila. Kita bersatu, kita berbagi, kita berprestasi itu pesan Bapak Presiden Ir. Joko Widodo,” kata Tjahjo mengakhiri pidato panjangnya.

Usai memimpin upacara, dengan berjalan kaki, dan di tengah terpaan terik matahari yang mulai menyengat, ia menuju rumah tempat Bung Karno di asingkan. Jarak dari lapangan Pancasila ke rumah pengasingan itu sendiri lumayan jauh sekitar 500 meteran. Sebelum memasuki rumah, Menteri Tjahjo dan rombongan disambut oleh tarian adat.

Baru setelah itu, ia memasuki halaman rumah pengasingan. Di halaman rumah, ia sempat meresmikan patung Bung Karno yang dibangun berdiri tegak di halaman depan. Setelah itu baru ia masuk melihat kondisi dalam rumah pengasingan. Rumah pengasingan Bung Karno sendiri cukup terawat. Barang-barang peninggalan Bung Karno saat diasingkan, mulai dari ranjang, piring, lukisan dan tulisan -tulisannya masih terawat dengan baik. Tjahjo juga diajak melongok halaman belakang rumah pengasingan. Di halaman  belakang ada sebuah sumur yang hingga sekarang airnya masih baik. Tjahjo juga sempat membasuh wajahnya dengan air yang diambil dari sumur tersebut. Baru, setelah itu, ia meninggalkan rumah pengasingan langsung menuju bandara.

Bagikan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.