Bitcoin kembali tergelincir pada Sabtu pagi (17/10/2026), terseret gelombang aksi jual yang lebih dulu melanda Wall Street sehari sebelumnya. Kombinasi harga minyak yang menembus US$100 per barel dan imbal hasil obligasi AS yang naik ke kisaran 5,1 persen membuat investor kembali menjauhi aset berisiko.
Data CoinMarketCap per pukul 10.10 WIB mencatat BTC turun 0,83 persen ke US$81.323 per koin. Dengan kurs Rp18.053 per dolar AS, nilainya setara hampir Rp1,47 miliar. Karena pasar kripto diperdagangkan 24 jam, angka ini mencerminkan posisi pada saat pencatatan dan masih dapat bergeser sepanjang hari.
Pelemahan tidak hanya terjadi pada aset kripto terbesar. Kapitalisasi pasar kripto global ikut menyusut, sementara saham perusahaan yang terkait industri ini mencatat penurunan jauh lebih tajam. Arah pergerakan selanjutnya kini sangat bergantung pada harga energi dan sinyal kebijakan bank sentral AS.
Penurunan kali ini tidak dipicu oleh kabar spesifik dari industri kripto. Sumbernya adalah tekanan makroekonomi yang berlapis, dimulai dari pasar energi.
Ketegangan di Timur Tengah dan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia memunculkan kekhawatiran soal kelancaran pasokan global. Reuters melaporkan kedua acuan utama minyak dunia melonjak tajam pada Jumat.
| Acuan minyak | Kenaikan | Harga per barel |
|---|---|---|
| Brent | US$3,94 (3,7%) | US$109,86 |
| West Texas Intermediate (WTI) | US$3,44 (3,5%) | US$101,41 |
Energi yang lebih mahal berisiko menjaga inflasi AS tetap tinggi. Jika itu terjadi, Federal Reserve punya ruang yang lebih sempit untuk memangkas suku bunga, sesuatu yang selama ini menjadi salah satu penopang minat terhadap aset berisiko.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun dilaporkan berada di sekitar 5,1 persen pada Jumat. Kenaikan yield cenderung memperketat kondisi keuangan dan membuat investor lebih pilih-pilih dalam menempatkan dana.
Bitcoin tidak memberikan bunga atau dividen. Ketika obligasi pemerintah AS, yang dianggap relatif aman, menawarkan imbal hasil di atas 5 persen, biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih besar. Sebagian investor pun memilih memindahkan dana ke instrumen pendapatan tetap.
Sinyal pelemahan sudah terlihat sejak penutupan bursa saham AS pada Jumat (16/10/2026). Mengutip CoinDesk, ketiga indeks utama ditutup di zona merah.
| Indeks | Perubahan | Penutupan |
|---|---|---|
| Nasdaq Composite | -2,14% | 26.140,03 |
| S&P 500 | -1,09% | 7.659,44 |
| Dow Jones Industrial Average | -175,28 poin (-0,34%) | 52.002,41 |
Saham teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan semikonduktor menjadi kelompok yang paling terpukul. Penurunan Nasdaq yang jauh lebih dalam dibanding Dow Jones menunjukkan investor terutama melepas saham bervaluasi tinggi, kategori yang pergerakannya kerap searah dengan Bitcoin.
Dalam 24 jam terakhir, kapitalisasi pasar kripto global turun 0,81 persen menjadi US$2,73 triliun. Indeks CoinDesk 20, yang mengukur kinerja 20 aset kripto terbesar, terkoreksi 0,9 persen.
| Aset | Perubahan 24 jam | Harga |
|---|---|---|
| Bitcoin (BTC) | -0,83% | US$81.323 |
| Ethereum (ETH) | -0,92% | US$2.417 |
| Binance Coin (BNB) | -1,14% | US$719 |
Ethereum dan BNB melemah sedikit lebih dalam dibanding BTC, pola yang lazim ketika sentimen pasar memburuk.
Tekanan terbesar justru terlihat di bursa saham. Strategy, perusahaan yang dikenal memegang Bitcoin dalam jumlah besar di neraca keuangannya, anjlok 9,2 persen. Bullish turun 5,9 persen, Circle terkoreksi 4 persen, dan Coinbase melemah 3,5 persen.
Penurunan saham-saham ini jauh melampaui pelemahan aset kripto itu sendiri. Artinya, investor ekuitas tidak hanya bereaksi terhadap harga koin, tetapi juga terhadap aksi jual yang lebih luas di sektor teknologi.
Pergerakan terbaru menegaskan bahwa Bitcoin masih sangat peka terhadap perubahan sentimen di pasar keuangan global. Ada tiga faktor utama yang kini menjadi perhatian pelaku pasar:
Selama ketiga faktor tersebut belum menunjukkan pelonggaran, ruang pemulihan bagi pasar kripto kemungkinan masih terbatas.
No Comments