
Kebakaran vegetasi kembali terjadi di kawasan Gunung Pakuwojo Wonosobo pada Rabu sore (21/10/2026), hanya dua hari setelah api di lokasi yang sama dinyatakan padam. Titik api muncul di wilayah Sidorejo, Dieng, Kecamatan Kejajar, Jawa Tengah. Hingga Rabu malam, petugas belum berhasil mengendalikannya.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wonosobo menerjunkan sekitar 50 personel ke lokasi. Menurut BPBD, kobaran api kali ini lebih besar daripada kebakaran pertama, yang diperkirakan sudah menghanguskan lima hingga tujuh hektare lahan.
Petugas kini menghadapi tiga kendala sekaligus: angin kencang, vegetasi yang mengering, dan lereng yang curam. Luas tambahan lahan yang terbakar serta penyebab munculnya kembali api sampai saat ini belum dapat dipastikan.
Data berikut disusun dari keterangan BPBD Wonosobo hingga Rabu malam (21/10/2026). Situasi masih berkembang.
| Waktu | Peristiwa | Status informasi |
|---|---|---|
| Sebelum Senin (19/10) | Kebakaran pertama, sekitar 5 hingga 7 hektare lahan terbakar | Perkiraan, belum final |
| Senin (19/10) | Api dinyatakan padam oleh petugas | Dikonfirmasi BPBD |
| Rabu sore (21/10) | Titik api muncul kembali dengan intensitas lebih besar | Dikonfirmasi BPBD |
| Rabu malam (21/10) | Sekitar 50 personel melakukan pemadaman darat dan penyekatan | Masih berlangsung |
Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Wonosobo, Sabarno, membenarkan bahwa kebakaran kembali terjadi meski lokasi tersebut sempat dipastikan aman pada awal pekan.
“Itu kemarin sudah kebakar terus dipastikan padam kemarin (Senin). Ini malah sore ini kebakar lagi,” ujarnya.
Menurut Sabarno, kondisi cuaca membuat api di Gunung Pakuwojo Wonosobo lebih ganas dibanding kejadian sebelumnya. Tiupan angin mempercepat rambatan api, sementara vegetasi kering di lereng gunung menjadi bahan bakar yang mudah tersulut.
“Malah lebih hebat dari yang kemarin. Ini masih sulit untuk memadamkan karena angin cukup kencang dan banyak yang kering di sana,” katanya.
Lereng yang terjal membuat tidak semua titik api bisa didekati. Pemadaman dilakukan lewat jalur darat, dengan prioritas pada titik yang masih memungkinkan untuk dijangkau.
“Di samping itu medannya cukup curam. Hanya menjangkau yang bisa dijangkau saja untuk penyekatan,” jelas Sabarno.
Penyekatan adalah teknik membuat jalur pemisah di antara area yang terbakar dan vegetasi yang belum tersentuh api. Jalur ini dibersihkan dari bahan mudah terbakar sehingga rambatan api bisa diputus. Di medan yang sulit dipadamkan secara langsung, cara ini menjadi pilihan utama untuk mencegah api meluas.
Beberapa fakta sudah dikonfirmasi BPBD: kebakaran kembali terjadi pada Rabu sore, intensitasnya lebih besar, dan sekitar 50 personel dikerahkan. Angka lima hingga tujuh hektare dari kebakaran pertama masih berupa perkiraan.
Sejumlah hal belum terjawab hingga Rabu malam. Luas total lahan yang terdampak masih memerlukan pendataan lanjutan, dan laporan awal tidak menyebutkan penyebab api kembali muncul.
Kebakaran di kawasan pegunungan berdampak lebih panjang dari sekadar lahan yang menghitam. Hilangnya tutupan vegetasi bisa merusak habitat satwa dan membuat tanah di lereng lebih rentan tergerus erosi, terutama saat musim hujan tiba.
BPBD Wonosobo meluncurkan ajakan bertajuk “Darurat Kepedulian! Selamatkan Gunung Pakuwojo, Wonosobo!”. Pesannya, gunung bukan hanya tujuan wisata alam, tetapi juga penyangga keseimbangan ekosistem yang perlu dijaga bersama oleh warga sekitar maupun pendaki.
Langkah pencegahan yang diminta BPBD antara lain:
Warga yang melihat kebakaran atau kondisi darurat di wilayah Wonosobo dapat menghubungi layanan darurat 112 atau BPBD Wonosobo melalui WhatsApp di nomor 081311116976.
Hingga Rabu malam, upaya pengendalian api di Gunung Pakuwojo Wonosobo masih berlangsung melalui pemadaman darat dan penyekatan titik api.
No Comments