Visi Indonesia Emas 2045 yang menargetkan posisi sebagai salah satu dari lima kekuatan ekonomi terbesar di dunia, sangat bergantung pada ketersediaan infrastruktur digital yang memadai. Konektivitas menjadi fondasi krusial bagi pencapaian ambisi tersebut.
Ronni Nurmal, Head of Government & Industry Relations Ericsson Indonesia, menyatakan bahwa teknologi 5G merupakan infrastruktur nasional vital. Teknologi ini akan menentukan arah transformasi digital bangsa, sekaligus mendukung perkembangan Artificial Intelligence (AI), komputasi awan, dan antarmuka API.
Dilansir dari Medcom, Ronni menambahkan bahwa tanpa infrastruktur yang kuat, aplikasi canggih tidak akan berfungsi optimal. Pembangunan konektivitas 5G yang solid sejak saat ini sangat dibutuhkan untuk membangun ekosistem aplikasi cerdas di masa depan, selaras dengan program Indonesia Digital Vision 2045 dari Komdigi.
Meski potensi ekonomi digital Indonesia sangat besar, penetrasi 5G di kawasan Asia Tenggara dan Oseania masih tertinggal. Data Ericsson Mobility Report menunjukkan bahwa langganan 5G di wilayah ini baru mencapai sekitar 14%.
Angka tersebut jauh di bawah wilayah maju seperti Amerika Utara dengan 79% atau Asia Timur Laut (Korea Selatan, Jepang, Tiongkok) yang mencapai 61% pada tahun 2025.
Ericsson memproyeksikan penetrasi 5G di Asia Tenggara akan meningkat signifikan hingga 56% pada tahun 2031. Namun, Ronni mengingatkan bahwa Indonesia perlu mempercepat akselerasi. Langkah ini penting agar Indonesia mampu bersaing dengan negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina yang telah lebih dulu mengadopsi 5G untuk berbagai kasus penggunaan.
Efisiensi investasi menjadi aspek penting bagi keberlanjutan bisnis operator seluler. Ronni menjelaskan bahwa bertahan dengan teknologi 4G di tengah lonjakan lalu lintas data justru akan menyebabkan biaya investasi yang lebih besar bagi operator.
Teknologi 5G menawarkan efisiensi spektral yang lebih tinggi dibandingkan 4G. Artinya, 5G mampu mengirimkan data lebih banyak dengan jumlah spektrum yang sama.
Dengan ketersediaan spektrum yang luas, misalnya di pita 2,6 GHz atau 3,5 GHz, biaya per gigabyte (cost per GB) yang dikeluarkan operator dapat turun secara signifikan hingga 70-80%. Penurunan biaya produksi data ini diharapkan dapat menghasilkan layanan yang lebih terjangkau bagi masyarakat serta menjaga keberlangsungan industri telekomunikasi.
Di tengah dinamika geopolitik global, kedaulatan digital menjadi isu yang sangat sensitif. Ronni menekankan pentingnya Indonesia memiliki akses ke beragam ekosistem teknologi, baik dari Barat maupun Timur.
Prinsip netralitas Indonesia harus tercermin dalam pembangunan infrastruktur digital. "Kita tidak boleh bergantung pada satu mitra spesifik atau satu negara saja, terutama karena 5G adalah infrastruktur kritis," tegas Ronni.
Diversifikasi vendor dan akses ke ekosistem global yang terbuka menjadi kunci untuk mengurangi risiko gangguan pada infrastruktur nasional. Infrastruktur ini kini telah menjadi kebutuhan hidup mendasar masyarakat, mulai dari sistem pembayaran hingga transportasi.
Melalui sinergi antara kebijakan pemerintah dalam penyediaan spektrum yang terjangkau dan kesiapan teknologi dari vendor serta operator, 5G diharapkan dapat menjadi katalisator. Peran ini akan mendukung UMKM hingga industri besar untuk mendigitalisasi operasional mereka.