Panduan Memilih APAR: Cocokkan Media Pemadam dengan Risiko Api di Rumah dan Kantor

4 minutes reading View : 13
Teguh Prasetyo
Info Umum - 17 Oct 2026

Memilih Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang salah bisa membuat api kecil justru membesar. Air yang disemprotkan ke wajan berisi minyak panas atau ke panel listrik bertegangan tidak meredam api dan malah menambah bahaya. Karena itu, langkah pertama sebelum membeli adalah memetakan jenis api yang paling mungkin muncul di lokasi Anda. Membandingkan harga bisa dilakukan belakangan.

Di Indonesia, acuan dasarnya adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.04/MEN/1980 tentang Syarat-Syarat Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan. Aturan ini membagi kebakaran ke dalam empat golongan, yaitu A, B, C, dan D. National Fire Protection Association (NFPA) di Amerika Serikat memakai lima kelas, dengan tambahan kelas K untuk minyak dan lemak masak.

Panduan berikut merangkum cara mencocokkan media pemadam dengan kelas api, membaca kode rating pada label, memilih ukuran tabung, dan memastikan unit yang dibeli tetap siap pakai selama bertahun-tahun.

Mulai dari Risiko di Lokasi

Satu jenis alat tidak bisa dipakai untuk semua tempat. Dapur, ruang server, dan gudang bahan bakar punya sumber api yang berbeda, sehingga kebutuhan alatnya juga berbeda.

Lima kelas kebakaran

Kelas Bahan yang terbakar Contoh lokasi
A Padatan non-logam: kayu, kertas, kain, plastik, karet Rumah, kantor, pusat belanja
B Cairan dan gas mudah terbakar: bensin, solar, alkohol, cat, elpiji Bengkel, SPBU, gudang bahan kimia
C Instalasi dan peralatan listrik bertegangan Panel listrik, ruang server, kantor
D Logam tertentu: magnesium, aluminium, natrium, litium, kalium Pabrik dan bengkel pengolahan logam
K Minyak sayur, lemak hewani Dapur rumah tangga dan restoran

Media pemadam dan batas penggunaannya

Ringkasan berikut disusun berdasarkan panduan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Banda Aceh, dengan tambahan catatan kehati-hatian.

Media Kelas yang ditangani Perlu dihindari
Air bertekanan A Listrik bertegangan dan minyak panas
Busa (AFFF) A, B Listrik bertegangan
Serbuk kimia kering (dry chemical powder) A, B, C Logam kelas D. Residunya juga bisa mengotori perangkat elektronik
CO2 (karbon dioksida) B, C Kurang efektif untuk bara kelas A. Hindari pemakaian lama di ruang sempit tertutup
Serbuk khusus (natrium klorida, grafit) D Kelas lain

Serbuk kimia kering paling sering dipilih untuk rumah dan kendaraan karena cakupannya luas. Untuk ruang yang penuh perangkat elektronik, CO2 umumnya lebih disukai karena gasnya tidak meninggalkan residu.

Catatan khusus untuk api dapur

Sejumlah panduan lokal menyebut serbuk, busa, dan CO2 sebagai pilihan untuk kelas K. Namun, standar NFPA 10 mensyaratkan pemadam jenis wet chemical untuk area masak komersial seperti restoran yang memakai penggorengan besar. Untuk kedua skenario berlaku satu prinsip yang sama: jangan pernah menyiram minyak yang terbakar dengan air.

Membaca Rating dan Menentukan Ukuran

Arti kode seperti 4-A:80-B:C

Menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA), huruf pada rating menunjukkan kelas api yang bisa ditangani, sedangkan angka menunjukkan daya padamnya.

  • 4-A: setiap satu unit A setara dengan daya padam sekitar 1,25 galon air, sehingga 4-A setara kira-kira 5 galon.
  • 80-B: mampu menangani api cairan seluas sekitar 80 kaki persegi atau kurang lebih 7,4 meter persegi.
  • C: media pemadamnya aman untuk peralatan listrik bertegangan.

Semakin besar angkanya, semakin besar pula kemampuan alat tersebut pada kelas api yang bersangkutan.

Kapasitas sesuai kebutuhan

Kapasitas Penggunaan umum
1-3 kg Mobil, rumah, toko kecil
4,5-6 kg Kantor, sekolah, hotel, fasilitas umum
9 kg Pabrik, workshop, gudang
25-50 kg (troli) Kawasan industri besar, penyimpanan bahan bakar

Pertimbangkan juga siapa yang akan memakainya. Tabung yang terlalu berat untuk diangkat penghuni rumah justru memperlambat respons saat darurat.

Standar dan Aturan Pemasangan

Artikel sumber merujuk SNI 180-1:2022 sebagai acuan mutu alat pemadam api portabel. Karena itu, label SNI pada produk perlu dicek sebelum membeli. Permenakertrans PER.04/MEN/1980 juga menetapkan beberapa ketentuan pemasangan:

  • APAR ditempatkan di titik yang mudah dilihat, dicapai, dan diambil, serta diberi tanda pemasangan.
  • Untuk area luas, jarak antar-unit tidak lebih dari 15 meter, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja.
  • Tabung yang berlubang atau rusak karena karat tidak boleh digunakan.

Pemeriksaan Fisik Sebelum Membayar

Beberapa hal bisa langsung dicek di toko:

  • Jarum pressure gauge berada di zona hijau, yang berarti tekanan masih dalam rentang operasional.
  • Pin pengaman dan segel masih utuh.
  • Tabung tidak penyok, tidak berkarat, dan tidak bocor.
  • Selang dan nozzle tidak retak atau tersumbat.
  • Label petunjuk penggunaan masih terbaca jelas.

Biaya Perawatan Termasuk Bagian dari Harga

Menurut Permenakertrans PER.04/MEN/1980, setiap APAR wajib diperiksa dua kali setahun, yaitu dalam jangka 6 bulan dan 12 bulan. Aturan yang sama mewajibkan percobaan berkala paling lama setiap lima tahun. Untuk unit yang diisi ulang, tanggal, bulan, dan tahun pengisiannya harus dicatat di badan tabung. OSHA menambahkan rekomendasi pemeriksaan visual minimal sebulan sekali.

Harga di pasaran berkisar dari Rp100 ribuan hingga jutaan rupiah, tergantung jenis dan kapasitasnya. Unit murah tidak ada gunanya jika medianya tidak cocok dengan risiko di lokasi, sementara unit mahal belum tentu dibutuhkan. Sebelum membeli, tanyakan kepada penjual apakah mereka menyediakan layanan inspeksi dan isi ulang. Alat yang tidak terawat bisa gagal berfungsi tepat saat dibutuhkan.

Share Copied

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *