Acer Indonesia sedang menyiapkan taktik untuk menghadapi kehadiran laptop MacBook Neo yang mengguncang pasar komputer jinjing di tanah air karena dijual dengan harga yang lebih murah dari perkiraan.
Dilansir dari Detik iNET, langkah pemantauan pasar tersebut dilakukan di tengah kondisi pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dolar yang berdampak pada industri teknologi nasional.
Consumer and Gaming Notebook Product Manager Acer Indonesia, Matius Tirtawirya memberikan penjelasan mengenai strategi perusahaan dalam menyikapi situasi persaingan produk terbaru tersebut pada hari Kamis (21/5/2026).
"Pertama kita akan melihat reaksi market dulu. Karena kita akan monitor di situ, karena ketika nanti hasilnya bagus atau tidak, pastinya Acer juga akan melihat apakah Acer nanti akan membuat SKU yang sama, di range harga seperti itu, ataupun seperti apa," kata Matius Tirtawirya.
Pihak manajemen menekankan bahwa aspek utama yang menjadi bahan pertimbangan internal perusahaan adalah kenyamanan konsumen saat mengoperasikan perangkat.
"Karena yang pasti yang kita lihat adalah pengalaman pengguna ketika menggunakan itu. Kalau misalkan pengalaman pengguna di range harga seperti itu, dengan spesifikasi seperti itu kurang memuaskan, mungkin kita tidak akan mengeluarkan solusi seperti itu. Tapi yang poin utamanya adalah pengalaman pengguna dengan SKU Acer," sambung Matius Tirtawirya.
Selain faktor kompetitor, kondisi ekonomi berupa pelemahan nilai tukar rupiah juga diakui memengaruhi harga jual produk karena seluruh perangkat Acer diperoleh melalui jalur impor dari luar negeri.
Kenaikan harga barang telah terjadi sejak akhir tahun lalu akibat krisis pasokan komponen RAM yang berkepanjangan serta adanya penyesuaian biaya layanan di sejumlah platform marketplace.
"Kalau misalkan suka memperhatikan marketplace, sebenarnya kalau dibandingkan dari, contoh Desember tahun lalu, terus kemudian di beberapa bulan belakangan ini, itu bisa dilihat sebenarnya peningkatannya lebih dari 10%," jelas Matius Tirtawirya.
Menurut penjelasan manajemen, fenomena lonjakan harga ini dialami oleh seluruh merek komputer di berbagai e-commerce besar seperti Tokopedia dan Shopee yang menerapkan biaya admin lebih tinggi.
"Itu bisa dilihat di semua brand terjadi, kayak e-commerce Tokopedia, Shopee, apalagi platform juga memberikan fee lebih tinggi lagi," imbuh Matius Tirtawirya.
Meskipun menghadapi tantangan penyesuaian harga, performa penjualan laptop Acer diklaim masih berada dalam kategori baik menjelang periode tahun ajaran baru sekolah.
"Kita terus berharap kalau misalkan pemerintah Indonesia itu punya improvement lah, sehingga daya beli masyarakat ini tidak menurun ke depannya. Karena sebentar lagi back to school, kemudian nanti kita juga ada promo-promo yang lebih menarik, biar semuanya itu bisa sukses," pungkas Matius Tirtawirya.