Tingkat adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia telah mencapai angka 96 persen per Selasa, 21 April 2026, berdasarkan laporan yang dirilis oleh perusahaan teknologi BytePlus. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut yang benar-benar memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan bisnis baru menyentuh angka 12 persen.
Regional Lead BytePlus untuk Indonesia dan Malaysia, Leon Chen, mengungkapkan kesenjangan tersebut dalam ajang BytePlus AI Day Indonesia 2026 di Jakarta. Dilansir dari Medcom, tantangan utama saat ini bergeser dari sekadar adopsi awal menjadi upaya maksimalisasi produktivitas dan nilai ekonomi melalui inovasi berkelanjutan.
Guna mengatasi hambatan tersebut, BytePlus memperkenalkan BytePlus ModelArk sebagai platform terpadu untuk pengembang mengintegrasikan berbagai large language models (LLM). Perusahaan juga meluncurkan rangkaian model Seed, termasuk Dola Seed 2.0 untuk penalaran dan Dreamina Seedance 2.0 untuk produksi konten video dinamis.
"Hanya sekitar 12 persen yang benar-benar memberikan dampak bisnis yang signifikan," kata Leon Chen, Regional Lead BytePlus untuk Indonesia dan Malaysia. Penegasan ini menggarisbawahi perlunya efisiensi dalam mengembangkan pengalaman digital lintas sektor mulai dari e-commerce hingga layanan publik.
Implementasi teknologi ini tercatat telah diterapkan oleh Transjakarta melalui penggunaan chatbot berbasis AI untuk mempermudah akses informasi rute dan jadwal penumpang. Direktur Sistem Teknologi Informasi dan Pelayanan Transjakarta, Raditya Maulana Rusdi, menyatakan bahwa interaksi bahasa alami ini memangkas waktu respons pelanggan hingga 93,82 persen.
Sementara itu, Volantis Technology menggunakan platform ModelArk untuk mengintegrasikan data besar yang tersebar menjadi solusi berbasis AI. Co-Founder dan CTO Volantis Technology, Habib Rosyad, menyebut pendekatan ini mampu mengotomatisasi proses kompleks dan mengelola kurasi konten dengan biaya yang lebih efisien.
Kecerdasan buatan kini diposisikan sebagai strategi utama untuk meningkatkan daya saing perusahaan di tengah dinamika pasar yang terus berubah. Optimalisasi penggunaan AI secara konkret menjadi faktor penentu bagi perusahaan untuk tetap unggul dibandingkan kompetitor lainnya.