Amerika Serikat dilaporkan telah memindahkan sebagian sistem pertahanan rudal canggih Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Langkah ini dipicu oleh konflik Iran dan kekhawatiran akan meluasnya ketegangan di Timur Tengah.
Muncul kekhawatiran bahwa relokasi ini dapat membuat Korea Selatan lebih rentan terhadap potensi serangan dari Korea Utara. Pemindahan sistem THAAD ini mengindikasikan bahwa AS sedang menghadapi tantangan dalam hal sumber daya sistem pertahanan rudal, khususnya dalam merespons serangan balasan dari Iran dan konflik yang semakin intensif di Timur Tengah.
Satu baterai sistem THAAD terdiri dari beberapa komponen utama, termasuk radar, pusat kendali taktis, enam peluncur, dan 48 rudal pencegat. Meskipun demikian, belum ada informasi pasti mengenai bagian spesifik dari baterai THAAD yang telah dipindahkan.
Presiden Lee Jae Myung mengakui adanya pemindahan tersebut dan menyatakan bahwa Seoul telah menyampaikan kekhawatirannya kepada pihak AS. "Kami telah menyatakan penolakan terhadap penarikan aset pertahanan udara tertentu, namun ini juga sebuah kenyataan bahwa posisi kita tak bisa selalu diakomodasi sepenuhnya di tiap situasi," katanya.
Meski begitu, Lee Jae Myung menambahkan bahwa pemindahan ini tidak akan secara signifikan melemahkan kemampuan pertahanan Korea Selatan terhadap Korea Utara. "Jika Anda bertanya apakah strategi daya tangkal kita terhadap Korea Utara akan sangat terpengaruh, saya bisa pastikan bahwa itu tidak akan terjadi," ujar Lee.
Kekhawatiran meningkat bahwa pertahanan udara Korea Selatan menjadi rentan. Korea Times melaporkan bahwa berbeda dengan sistem Patriot yang sebagian dapat digantikan oleh Korea Selatan dengan aset pertahanan udaranya sendiri, THAAD sama sekali tidak memiliki alternatif domestik yang sebanding.
Jika THAAD benar-benar direlokasi, hal ini dapat menciptakan celah dalam pertahanan udara Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan, dengan dukungan dari Washington, bersikeras bahwa THAAD adalah cara paling efektif untuk mendeteksi dan menghancurkan rudal Korea Utara sebelum mengancam Korea Selatan dan 28.500 tentara AS yang ditempatkan di sana. THAAD ditempatkan di Korea Selatan sejak 2017.
Tindakan AS ini memicu keraguan atas komitmen Donald Trump terhadap Korea Selatan, sekutu Asia Timur terpenting AS bersama Jepang dan peringatan bahwa Korea Utara yang bersenjata nuklir dapat mengambil kesempatan.
Korea Selatan memang memiliki kemampuan untuk menggantikan baterai Patriot dengan sistem Cheongung-II buatan dalam negeri untuk pencegatan ketinggian rendah dan menengah. Namun, untuk pertahanan rudal ketinggian tinggi (di atas sekitar 100 km), negara ini sepenuhnya bergantung pada THAAD yang dapat mencegat rudal balistik setinggi antara 40 km hingga 150 km.
Pengembangan rudal pencegat ketinggian tinggi baru Korea Selatan, L-SAM, dijadwalkan baru mulai dioperasikan tahun depan. Kekhawatiran muncul bahwa celah keamanan dapat melebar jika krisis di Timur Tengah terus berlanjut.
Beberapa pengamat berpendapat bahwa aset AS dapat lebih sering ditarik keluar di masa depan. Relokasi sementara dari beberapa aset dapat dilakukan hanya dengan pemberitahuan sepihak, meskipun penarikan permanen memerlukan negosiasi antara Korea dan AS.
Di sisi lain, beberapa pihak memandang langkah ini sebagai demonstrasi fleksibilitas AS, di mana aset-aset yang ditempatkan di wilayah lain juga dapat dikerahkan ke Semenanjung Korea kapan pun dibutuhkan.
Shin Beom-chul, seorang peneliti senior di Sejong Institute, menyampaikan bahwa penempatan ulang ini mengirimkan pesan bahwa kemampuan militer di Semenanjung Korea dapat diperkuat sewaktu-waktu jika terjadi krisis.