Astronot NASA melalui misi Artemis mengabadikan fenomena Bumi terbenam atau Earthset dari balik cakrawala Bulan pada 6 April 2026 pukul 18.41 waktu setempat. Pengambilan gambar ini bertujuan mendokumentasikan transformasi visual planet dari ruang angkasa setelah hampir enam dekade foto ikonik Earthrise diambil.
Foto tersebut diambil melalui jendela pesawat antariksa Orion yang memperlihatkan sisi Bumi yang terkena sinar matahari di atas wilayah Oseania. Dokumentasi terbaru ini menunjukkan detail permukaan Bulan yang kontras dengan warna biru bumi di tengah kegelapan ruang angkasa, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
Perbandingan dengan foto Earthrise tahun 1968 mengungkapkan fakta memprihatinkan mengenai kondisi lingkungan global saat ini. Richard Allan, Profesor Ilmu Iklim Universitas Reading, menjelaskan bahwa sejak foto pertama diambil, kadar karbon dioksida di atmosfer telah meningkat sekitar sepertiga dan suhu global naik minimal 1 derajat Celsius.
Aktivitas manusia selama enam dekade terakhir telah mengubah tekstur daratan secara signifikan yang kini terlihat jelas dari luar angkasa. Perubahan tersebut mencakup perluasan wilayah perkotaan, penggundulan hutan lebat untuk lahan pertanian, hingga menyusutnya Laut Aral hingga menyisakan kurang dari 10 persen dari ukuran aslinya pada tahun 1960-an.
Data dari Universitas Leeds menyoroti kerusakan di wilayah kutub, khususnya Semenanjung Antartika yang mengalami pemanasan tercepat di dunia. Sekitar 28.000 kilometer persegi paparan es dilaporkan telah runtuh dalam rentang waktu antara pengambilan foto Earthrise pertama hingga foto Earthset terbaru ini.
"Kita sekarang melihat penurunan drastis tutupan es laut musiman di kedua belahan Bumi," kata Petra Heil, Direktur Sains di British Antarctic Survey. Ia menambahkan bahwa sekitar 90 hingga 95 persen dari perubahan lingkungan yang teramati tersebut disebabkan oleh aktivitas manusia.
Craig Donlon dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menyatakan bahwa pengambilan foto oleh tangan manusia memberikan perspektif emosional yang berbeda dibandingkan citra satelit otomatis. Foto ini menjadi pengingat mengenai kerapuhan Bumi sebagai satu-satunya tempat tinggal manusia di alam semesta yang luas.
Meskipun kondisi Bumi terlihat semakin rusak akibat kemajuan industri, para ahli berharap citra terbaru ini dapat kembali memicu gerakan lingkungan global. Kathleen Rogers, Presiden Jaringan Hari Bumi, menekankan bahwa foto dari luar angkasa selalu memiliki kekuatan untuk menginspirasi generasi baru dalam mengambil langkah nyata penyelamatan planet.