Seorang ayah di Islandia kehilangan hak asuh anaknya setelah secara terbuka mempertanyakan keputusan anaknya untuk berganti jenis kelamin. Kasus ini menarik perhatian internasional, termasuk dari Elon Musk yang menyatakan dukungannya.
Alexandre Rocha, seorang warga negara Prancis yang tinggal di Islandia selama 25 tahun, kehilangan hak asuhnya pada Desember lalu. Ia meyakini bahwa keputusan hakim dipengaruhi oleh keraguannya terhadap dampak jangka panjang dari penggunaan penghambat pubertas dan terapi hormon.
"Seharusnya itu adalah kejahatan," kata Rocha tentang intervensi medis tersebut.
"Anda melecehkan anak-anak, mengebiri seorang anak laki-laki, seperti dalam kasus anak saya. Ini seharusnya tidak terjadi. Ini adalah ideologi yang tidak memiliki tempat untuk anak-anak," sambungnya.
Rocha berpendapat bahwa anaknya, yang saat itu berusia 10 tahun, belum mampu memahami konsekuensi permanen dari perubahan jenis kelamin. Ia juga khawatir perpisahan dengan ibunya akan mempengaruhi kondisi mental anaknya, terlebih setelah diagnosis autisme.
"Bagi saya, kekhawatirannya adalah jangka panjang. Akankah mereka tetap bahagia empat tahun dari sekarang, atau enam tahun lagi, setelah mengonsumsi obat penghambat hormon dan lebih banyak hormon? Apakah ini benar-benar memperbaiki akar masalahnya — tantangan atau kesulitan mental, apa pun yang mereka alami?" tanya Rocha.
Meskipun diagnosis gangguan spektrum autisme baru ditegakkan delapan bulan sebelumnya, Rocha merasa pengadilan dan profesional medis mengabaikan hal ini selama persidangan.
Rocha mencontohkan bahwa anaknya terkadang lebih suka menjadi kucing dan mengenakan telinga atau ekor kucing. Ia mencatat bahwa anak-anak dengan spektrum autisme seringkali kesulitan merasa nyaman dengan diri sendiri.
Namun, ketika ia menyampaikan kekhawatiran tersebut di pengadilan, Rocha mengatakan seorang ahli endokrinologi Islandia mengabaikannya dan menjamin obat hormon tidak akan menimbulkan masalah serta menolak memeriksa faktor kesehatan mental yang mendasarinya.
Pada bulan Februari, Rocha diberitahu bahwa ibu anak tersebut secara resmi mengubah nama putranya menjadi nama perempuan. Kartu identitasnya sekarang menyatakan bahwa ia adalah seorang perempuan.
Kisah Rocha menarik perhatian Elon Musk, yang dikenal vokal menentang isu transgender setelah putranya bertransisi menjadi perempuan dan sekarang menggunakan nama Vivian Jenna Wilson.
Musk mengaku 'ditipu' untuk memberikan persetujuan agar Wilson menggunakan penghambat pubertas sebelum ia 'memahami apa yang sedang terjadi'.
"Woke mind virus bahkan memengaruhi Islandia," ujarnya menanggapi unggahan tentang kisah Rocha di akun X populer @libsoftiktok.
Rocha merasa sangat terkejut dan terhormat bahwa Musk membagikan kisahnya. Dia merasa baik dia dan Musk tengah berjuang menghadapi masalah yang sama.
"Karena pada akhirnya, kita semua adalah orang tua, terlepas dari batas negara atau kewarganegaraan," ungkapnya.
Rocha merindukan momen-momen sehari-hari bersama putranya, yang katanya belum ia temui sejak Januari.
"Saya merindukan waktu bercerita di malam hari dan memasak bersama," akunya. Rocha menyebutkan betapa ia menikmati menonton film-film Steven Spielberg tahun 1990-an seperti 'Jurassic Park' bersama putranya.