Ancaman sampah plastik terhadap lingkungan menjadi masalah global. Penumpukan plastik terus terjadi di berbagai ekosistem. Salah satu solusi yang diharapkan adalah pengembangan plastik biodegradable.
Tim peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bakteri laut yang mampu mengurai plastik ramah lingkungan atau biodegradable.
Bakteri-bakteri tersebut bekerja bersama-sama. Beberapa bakteri memecah plastik menjadi bagian kecil, sementara yang lain 'memakan' bagian-bagian kecil tersebut hingga habis.
Marc Foster, mahasiswa PhD yang memimpin penelitian ini, menjelaskan bahwa cepat atau lambatnya penguraian plastik sangat bergantung pada jenis bakteri di sekitar plastik dan jenis plastiknya sendiri.
Lebih dari separuh plastik yang diproduksi di dunia tidak didaur ulang dan berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibuang ke alam. Oleh karena itu, penting untuk memahami detail proses penguraian plastik biodegradable agar dapat memastikan keamanannya bagi lingkungan.
Penelitian ini melibatkan perusahaan kimia BASF yang menenggelamkan sampel plastik ke Laut Mediterania untuk membiarkan bakteri laut tumbuh di permukaan plastik. Sampel kemudian dikirim ke laboratorium MIT.
Para ilmuwan mengidentifikasi 30 spesies bakteri yang aktif tumbuh di atas plastik. Salah satunya, Pseudomonas pachastrellae, mampu memecah plastik menjadi Asam tereftalat, Asam sebakat, dan Butanediol, tetapi tidak bisa memakannya.
Bakteri lain kemudian mengambil peran untuk 'memakan' bahan kimia tersebut. Para peneliti membentuk tim kecil yang terdiri dari lima spesies bakteri dengan kemampuan saling melengkapi. Tim ini sama efektifnya dengan komunitas 30 bakteri dalam mengurai plastik hingga tuntas.
"Ketika saya menghilangkan salah satu bakteri dari tim, proses penguraian langsung melambat," kata Foster.
Tim lima bakteri ini hanya bisa mengurai satu jenis plastik tertentu. Hal itu menunjukkan jenis bakteri akan menentukan plastik mana yang bisa terurai di suatu tempat dan seberapa cepat prosesnya.
"Ini membuktikan nasib sebuah plastik di alam sangat bergantung pada bakteri apa yang tinggal di sana," ujar Foster.
Dampak Penelitian untuk Masa Depan
Meskipun bakteri yang diteliti mungkin hanya ditemukan di Laut Mediterania, temuan ini membuka peluang besar bagi perkembangan teknologi lingkungan. Dengan memahami 'pembagian tugas' antarbakteri, para ilmuwan berharap dapat menciptakan plastik baru yang lebih mudah terurai dan mengembangkan sistem daur ulang berbasis mikroba.
Saat ini, Foster melanjutkan penelitiannya untuk mencari tahu faktor yang membuat pasangan bakteri tertentu bisa mengurai plastik lebih cepat dan bagaimana enzim bakteri menempel pada plastik untuk memulai proses penguraian.
Penelitian ini didukung oleh MIT Climate and Sustainability Consortium, perusahaan BASF, serta program beasiswa ilmiah dari pemerintah Amerika Serikat.