Tim peneliti dari Chinese Academy of Sciences memperkenalkan teknologi baterai sodium-ion terbaru yang mampu mengeliminasi risiko kebakaran atau thermal runaway pada Senin (06/04/2026). Temuan ini dipublikasikan melalui jurnal ilmiah Nature Energy sebagai solusi keamanan sistem penyimpanan energi.
Dilansir dari Medcom, inovasi ini menggunakan jenis elektrolit baru bernama polymerisable non-flammable electrolyte (PNE). Teknologi tersebut berfungsi menciptakan penghalang fisik di dalam sel baterai guna mencegah penyebaran panas berlebih saat terjadi kegagalan sistem.
Mekanisme pengaman bekerja secara otomatis dengan mengubah fase elektrolit dari cair menjadi padat ketika suhu internal sel melampaui 150 derajat Celsius. Transformasi ini efektif memutus reaksi berantai yang biasanya memicu ledakan pada baterai konvensional.
Dalam pengujian menggunakan sel silinder berkapasitas 3,5 Ah, baterai ini terbukti tidak mengeluarkan asap maupun api meskipun ditusuk dengan paku. Bahkan, sel tetap stabil tanpa menunjukkan gejala thermal runaway saat dipanaskan hingga suhu ekstrem mencapai 300 derajat Celsius.
Aspek performa tetap terjaga dengan kepadatan energi mencapai 211 Wh/kg dan kemampuan beroperasi pada suhu -40 hingga 60 derajat Celsius. Peneliti juga mencatat stabilitas tegangan baterai mampu bertahan di atas 4,3 volt tanpa mengurangi faktor keamanan.
Zhongke Haina atau HiNa, sebagai perusahaan spin-off lembaga riset tersebut, kini tengah mempersiapkan tahap komersialisasi teknologi ini. Berdasarkan laporan industri, penggunaan baterai sodium-ion pada truk berat menunjukkan efisiensi konsumsi energi 15 persen lebih rendah.
Pihak HiNa memproyeksikan biaya produksi massal baterai sodium-ion akan setara dengan baterai lithium-ion pada tahun 2027. Skala produksi yang lebih besar pada 2028 diharapkan dapat menurunkan harga secara kompetitif bagi industri kendaraan listrik global.