Bill Gates Ingatkan Serangan Siber Berbasis AI Bakal Melonjak pada 2027, Ini Sektor Paling Rentan

5 minutes reading View : 35
Teguh Prasetyo
Teknologi - 14 Oct 2026

Bill Gates kembali mengingatkan bahaya kecerdasan buatan. Kali ini fokusnya bukan robot pembangkang atau AI yang lepas kendali. Ancaman terdekat menurutnya adalah serangan siber.

Pendiri Microsoft itu memprediksi bahwa tahun depan akan menjadi periode ketika penyalahgunaan AI paling terasa di dunia keamanan digital. Gates menilai AI yang tidak diatur menjadi ancaman yang terus membesar, dan ia memperkirakan eskalasi serangan siber bertenaga AI dalam setahun ke depan. Sasarannya pun tidak main-main, mulai dari perusahaan, sistem keuangan, hingga berbagai layanan digital yang dipakai masyarakat sehari-hari.

Peringatan ini datang di saat yang pas. Data dari perusahaan keamanan siber global menunjukkan aktivitas peretas yang memanfaatkan AI sudah melonjak tajam. Di sisi lain, perdebatan soal siapa yang semestinya mengawasi teknologi ini, pemerintah atau perusahaan AI sendiri, makin panas di Amerika Serikat dan berbagai negara lain.

Bill Gates: Bahaya Utama Ada pada Manusia, Bukan Mesin

Pernyataan terbaru Gates disampaikan dalam wawancara televisi di Amerika Serikat pada Minggu (11/10/2026). Ia menegaskan bahwa risiko AI “lepas kendali” masih bertahun-tahun lagi, sementara kekhawatiran yang mendesak saat ini adalah orang jahat yang memakai sistem yang sudah ada tanpa pengaman.

Dalam wawancara tersebut, Gates menyebut bahwa medan yang kemungkinan paling dramatis terlihat tahun depan adalah serangan siber. Ia juga menambahkan bahwa bahaya sesungguhnya muncul ketika AI dipakai oleh pihak berniat buruk, terutama pada model yang semua pengamannya bisa dicopot.

Pengaman AI Bisa Dilepas

Poin ini menjadi inti kegelisahan Gates. Ia menyebut perlindungan yang dibangun untuk mencegah serangan siber dan bioterorisme saat ini masih bisa dihapus, sehingga perusahaan AI tidak boleh menjadi satu-satunya pengawas bagi masyarakat. Karena itu, ia mendorong pembatasan yang lebih ketat agar pelaku kejahatan tidak bisa memakai AI untuk bioterorisme maupun serangan siber.

Pasar Keuangan Ikut Jadi Sasaran

Gates juga menyoroti potensi serangan yang dirancang untuk mengguncang aktivitas ekonomi. Menurutnya, pihak yang menyalahgunakan AI bisa mendapat peluang baru untuk memengaruhi pasar keuangan. Skenario semacam ini bukan sekadar mencuri data. Pelaku dapat menciptakan kekacauan pada pasar saham atau aktivitas perjudian, lalu meraup untung dari gejolak tersebut atau memeras pihak yang menjadi sasaran.

Data CrowdStrike: Serangan Berbasis AI Naik 89 Persen

Kekhawatiran Gates bukan tanpa dasar. Laporan Global Threat Report 2026 dari CrowdStrike memperlihatkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan.

CrowdStrike mencatat bahwa operasi kelompok peretas yang memanfaatkan AI naik 89 persen secara tahunan, dengan AI dipakai untuk pengintaian, pencurian kredensial, hingga menghindari deteksi. Laporan itu disusun berdasarkan intelijen lapangan yang memantau lebih dari 280 kelompok peretas yang teridentifikasi.

Peretas Kini Bergerak dalam Hitungan Menit

Temuan yang paling mencolok adalah soal kecepatan. Rata-rata breakout time kejahatan siber turun menjadi 29 menit, atau 65 persen lebih cepat dibanding 2024, dan rekor tercepat yang teramati hanya 27 detik. Dalam salah satu kasus, pencurian data sudah dimulai empat menit setelah akses awal didapat.

Breakout time sendiri adalah jeda antara saat peretas pertama kali masuk ke jaringan hingga mereka berpindah ke sistem lain di dalamnya. Proses ini dikenal sebagai pergerakan lateral. Semakin singkat waktunya, semakin sempit pula kesempatan tim keamanan untuk mendeteksi dan memutus serangan sebelum dampaknya meluas.

CrowdStrike menggambarkan situasi ini sebagai perlombaan senjata AI. Menurut perusahaan itu, breakout time adalah sinyal paling jelas tentang perubahan pola penyusupan, karena AI memangkas jarak antara niat dan eksekusi sekaligus menjadikan sistem AI milik perusahaan sebagai target.

Meski demikian, angka tersebut perlu dibaca dengan proporsional. Data itu merangkum tren ancaman yang diamati CrowdStrike dan tidak berarti setiap serangan siber kini dijalankan dengan AI.

Industri Teknologi Juga Bunyikan Alarm

Gates bukan satu-satunya yang khawatir. Pada akhir Agustus lalu, raksasa teknologi dunia kompak mengeluarkan seruan serupa. Lebih dari 100 perusahaan, termasuk OpenAI, Anthropic, Google, Microsoft, AWS, IBM, CrowdStrike, Visa, dan Mastercard, mendesak pemerintah dan sektor swasta membangun pertahanan bersama melawan serangan berbasis AI, sembari memperingatkan bahwa waktu yang tersedia terbatas.

Surat terbuka tersebut juga menyebut sektor yang paling berisiko. Para penandatangan memperkirakan serangan siber berbasis AI akan makin luas dan canggih seiring meningkatnya kemampuan model, dan berpotensi mengancam rumah sakit, instalasi pengolahan air, hingga infrastruktur pendukung internet.

Ada sisi positifnya. Kemajuan AI disebut sudah membantu pihak bertahan menambal celah keamanan yang menumpuk selama bertahun-tahun. Artinya, AI bisa menjadi senjata sekaligus perisai, tergantung siapa yang lebih cepat memanfaatkannya.

Regulasi AI Dinilai Perlu Lebih Terkoordinasi

Peringatan Gates juga menyentuh ranah kebijakan. Dalam wawancara yang sama, ia menolak pandangan yang didukung Presiden AS Donald Trump bahwa regulasi mandiri oleh perusahaan AI sudah cukup untuk menjaga keamanan dunia.

Pandangan Oliver Libby

Oliver Libby, ahli strategi dari Partai Demokrat, menilai pernyataan Gates memperlihatkan betapa sulitnya menyeimbangkan inovasi dan perlindungan publik. Ia berpendapat pemerintah perlu menyusun kebijakan yang mendukung perkembangan AI tanpa menutup mata terhadap risiko penyalahgunaannya.

Libby mendorong koordinasi regulasi di tingkat federal maupun internasional. Ia juga menekankan pentingnya tanggung jawab platform, penegakan hukum terhadap kejahatan siber dan deepfake, serta perlindungan anak di ruang digital.

Dampak ke Dunia Kerja

Libby mengingatkan bahwa AI juga berpotensi mengubah wajah dunia kerja secara besar-besaran. Kebijakan yang disusun, menurutnya, harus memperhitungkan kesiapan tenaga kerja agar manfaat ekonomi dari teknologi ini bisa dirasakan luas.

Isu ini sejalan dengan sikap Gates sebelumnya. Pada Agustus lalu, ia menulis esai panjang yang memperingatkan bahwa dunia sangat tidak siap menghadapi gejolak akibat AI, terutama di sektor ketenagakerjaan. Ia bahkan mengusulkan pajak baru atas AI seiring makin banyaknya pekerjaan manusia yang tergantikan.

Relevansinya bagi Indonesia

Bagi Indonesia, peringatan ini terasa dekat. Publik tentu masih ingat serangan ransomware terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) pada pertengahan 2024 yang melumpuhkan sejumlah layanan publik, termasuk layanan imigrasi, dan disertai tuntutan tebusan jutaan dolar AS. Insiden itu menunjukkan betapa rentannya layanan digital ketika pertahanan tidak sigap.

Jika peretas kini bisa bergerak dalam hitungan menit berkat bantuan AI, institusi pemerintah, perbankan, dan perusahaan di Tanah Air perlu meninjau ulang kesiapan mereka. Langkah dasar seperti autentikasi yang tahan phishing, pemantauan akses istimewa, dan latihan respons insiden kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Perdebatan soal regulasi AI di level global kemungkinan masih akan bergulir panjang. Yang jelas, pesan Gates cukup lugas: ancaman terbesar AI saat ini bukan mesinnya, melainkan manusia yang menyalahgunakannya.

Share Copied

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *