BRIN Kebut Penyelesaian Observatorium Nasional Gunung Timau NTT

BRIN targetkan operasional penuh Observatorium Nasional Gunung Timau di NTT yang kini capai 95 persen pembangunan untuk perkuat riset antariksa.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginstruksikan percepatan penyelesaian pembangunan Observatorium Nasional Gunung Timau di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Kamis (7/5/2026). Proyek strategis ini ditargetkan segera beroperasi secara penuh guna memperkuat kapasitas riset astronomi dan antariksa di Indonesia.

Hingga saat ini, progres pembangunan teleskop di observatorium tersebut telah menyentuh angka 95 persen. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi lokasi pengamatan antariksa tercanggih di Asia karena memiliki teleskop terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Dilansir dari Detik iNET, keberadaan observatorium ini juga berfungsi sebagai pilar pendukung bagi pengembangan bandar antariksa atau spaceport nasional yang berlokasi di Biak, Papua. Lokasi Gunung Timau yang berada di kawasan khatulistiwa memberikan keunggulan strategis dalam pemantauan benda-benda luar angkasa.

"Kami ingin teleskop ini segera dirampungkan dan beroperasi penuh, karena akan menjadi fasilitas strategis bagi penguatan riset antariksa Indonesia," ujar Kepala BRIN Arif Satria saat melakukan kunjungan kerja di Gunung Timau, Kamis (7/5/2026).

Selain penyelesaian fisik teleskop, Arif Satria menekankan pentingnya penguatan ekosistem riset melalui perekrutan tenaga peneliti baru. Upaya revitalisasi gedung magnetometer serta peningkatan sarana penunjang bagi para ilmuwan turut menjadi agenda prioritas dalam optimalisasi operasional fasilitas tersebut.

Pemerintah Kabupaten Kupang juga diminta untuk memberikan dukungan berupa perbaikan akses jalan menuju kawasan observatorium. Infrastruktur jalan yang memadai dinilai sangat krusial agar kawasan riset internasional ini tidak terisolasi dan mudah dijangkau oleh para ahli.

Research Fellow Pusat Riset Antariksa BRIN, Andre Pandie, menyebutkan bahwa spesifikasi teleskop di Gunung Timau sangat langka di dunia. Saat ini, hanya Indonesia dan Jepang yang memiliki teleskop dengan spesifikasi teknologi serupa untuk kepentingan penelitian ilmiah.

Keunggulan geografis di jalur khatulistiwa telah menarik perhatian komunitas sains global. BRIN menyatakan telah mengantongi komitmen kerja sama internasional dan sedang menyiapkan kolaborasi lanjutan segera setelah observatorium ini resmi dioperasikan secara komersial dan ilmiah.

Recommended