Aktivitas seismik yang tinggi di kawasan timur Indonesia, seperti yang ditunjukkan oleh gempa magnitudo 7,6 di utara Sulawesi dan Maluku beberapa waktu lalu, mengingatkan akan potensi ancaman tsunami yang berkelanjutan. Kejadian ini juga menyoroti kebutuhan akan sistem deteksi yang lebih kuat untuk mengantisipasi bahaya tersebut.
Semeidi Husrin, peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa gempa tersebut dipicu oleh mekanisme sesar naik yang berpotensi memicu tsunami. "Sesuai dengan rilis resmi yang dikeluarkan oleh BMKG sebagai otoritas peringatan dini tsunami di Indonesia, gempa bumi yang terjadi di Maluku Utara itu adalah gempa akibat sesar naik dengan kekuatan sekitar 7,6 magnitudo dan berpotensi men-trigger tsunami," ujar Semeidi, dikutip dari laman BRIN.
Meskipun gelombang tsunami yang tercatat di sekitar episenter relatif kecil dan sebagian besar di bawah satu meter, catatan sejarah abad ke-19 menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah mengalami tsunami besar dengan ketinggian mencapai 15 meter. Hal ini menegaskan urgensi peningkatan kapasitas deteksi dini di wilayah tersebut.
Untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami nasional, InaTEWS, yang dikelola Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), BRIN telah mengembangkan teknologi inovatif bernama PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut). Alat ini menawarkan pendekatan yang berbeda dari sistem konvensional.
Tidak seperti sistem yang mengandalkan pemodelan gempa untuk memperkirakan kemungkinan tsunami, PUMMA langsung mencatat tsunaminya secara real-time. "Jadi gempanya dicatat, kemudian tsunaminya dimodelkan. Sementara PUMMA ini langsung mencatat tsunaminya. Jadi tanpa pemodelan, dia secara real time langsung mencatat tsunaminya," jelas Semeidi, seperti dilansir dari Detik iNET.
Perangkat ini dirancang untuk memantau perubahan muka air laut secara langsung, memungkinkan indikasi tsunami yang lebih cepat. Semeidi menyoroti bahwa teknologi ini sangat ideal untuk diterapkan di Indonesia, terutama di wilayah timur yang kaya akan pulau-pulau kecil. Sebagai contoh, dalam kasus gempa Maluku Utara, PUMMA bisa dipasang di Pulau Maju dan Pulau Batang Dua untuk membantu deteksi dini.
Penggunaan PUMMA di Selat Sunda dan Tantangan ke Depan
PUMMA sendiri sudah digunakan selama sekitar enam tahun di wilayah Selat Sunda. Perangkat ini terpasang di Pulau Rakata, kompleks Gunung Api Anak Krakatau, menjadikannya satu-satunya sistem pemantauan tsunami yang dipicu aktivitas vulkanik di Indonesia saat ini. "PUMMA saat ini di Selat Sunda terpasang dengan baik di Pulau Rakata, kompleks Gunung api Anak Krakatau yang merupakan satu-satunya sistem atau alat yang melakukan informasi monitoring dan sistem peringatan dini volcano-tsunami di Selat Sunda saat ini," kata Semeidi.
Pengembangan PUMMA didukung oleh berbagai pihak, termasuk Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi, Telkomsel, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta sejumlah lembaga nasional dan internasional.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa tsunami tidak selalu dipicu oleh gempa bumi. Peristiwa tsunami di Palu dan Selat Sunda pada 2018 membuktikan bahwa aktivitas gunung api dan longsor bawah laut juga dapat menjadi pemicu. "Tsunami tidak hanya diakibatkan oleh gempa bumi tetapi juga akibat aktivitas gunung api atau longsor bawah air. Aktivitas gunung api, longsor bawah air tidak bisa dideteksi oleh sensor gempa bumi, hanya sensor tertentu seperti sensor muka air yang dipasang dengan tepat yang bisa mendeteksi tsunami lebih dini," tegas Semeidi.
Oleh karena itu, BRIN mendorong implementasi sistem multisensor untuk melengkapi sistem peringatan dini tsunami yang sudah ada. Meskipun BMKG mampu mengirimkan peringatan dini tsunami dalam waktu sekitar lima menit setelah gempa, tantangan besar masih terletak pada penyampaian informasi dan kesiapan jalur evakuasi di wilayah pesisir. Karakteristik tsunami jarak dekat di Indonesia berarti gelombang dapat mencapai pesisir dalam waktu kurang dari 30 menit atau satu jam setelah gempa.