Dalam rentang waktu sekitar 200 hingga 250 juta tahun ke depan, planet Bumi diperkirakan akan mengalami fenomena geologis yang signifikan: penyatuan kembali benua-benua menjadi satu daratan raksasa. Peristiwa ini, yang disebut sebagai pembentukan superkontinen, bukan hal baru dalam sejarah geologi Bumi, mengingat pernah terjadi di masa lalu dengan nama Pangaea.
Prediksi mengenai pembentukan superbenua ini disampaikan oleh para ilmuwan yang juga memberikan peringatan terkait potensi dampak ekstremnya. Kondisi yang akan tercipta akibat penyatuan daratan ini dikhawatirkan dapat mengancam kelangsungan hidup umat manusia, demikian dilansir dari Detik iNET.
Para peneliti menggarisbawahi bahwa Bumi memang melalui siklus alami di mana lempeng tektonik memecah dan menggabungkan benua-benua selama ratusan juta tahun. Proses ini adalah bagian integral dari evolusi geologis planet kita.
Hannah Sophia Davies dari Bangor University, Wales, Inggris, bersama timnya, melalui studi sebelumnya, telah mengidentifikasi beberapa skenario kemungkinan bentuk superkontinen di masa mendatang. Beberapa di antaranya mencakup Novopangea, Amasia, dan Pangaea Ultima.
Skenario-skenario ini sangat bergantung pada pergerakan lempeng Bumi yang terjadi secara sangat lambat, hanya beberapa sentimeter per tahun. Namun, laju pergerakan ini memiliki implikasi jangka panjang yang masif. Michael J. Way, seorang peneliti dari NASA Goddard Institute for Space Studies, menekankan bahwa perhatian utama bukan hanya pada terbentuknya superkontinen itu sendiri, melainkan pada dampak iklim ekstrem yang akan menyertainya.
“Simulasi iklim menunjukkan bahwa penyatuan daratan besar bisa mengubah pola cuaca secara drastis. Lokasi superkontinen akan sangat memengaruhi iklim planet,” ujar Michael J. Way.
Ketika semua benua bergabung, sebagian besar wilayah daratan akan berada jauh dari pengaruh moderasi laut. Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan suhu yang sangat tinggi dan kekeringan ekstrem, menciptakan lingkungan yang sulit untuk dihuni oleh berbagai jenis makhluk hidup, termasuk manusia.
Beberapa riset bahkan mengindikasikan bahwa kondisi iklim ekstrem ini berpotensi memicu kepunahan massal. Mamalia, khususnya, mungkin akan menghadapi tantangan berat untuk beradaptasi dengan panas yang terlampau tinggi dan penurunan kadar oksigen di atmosfer. Selain itu, pembentukan superbenua juga diperkirakan akan meningkatkan aktivitas vulkanik, yang dapat melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer, mempercepat pemanasan global secara alami.
Meskipun prediksi ini menimbulkan kekhawatiran, para ilmuwan menegaskan bahwa proses ini akan berlangsung dalam skala waktu yang sangat panjang, melampaui umur peradaban manusia saat ini. Studi semacam ini berfungsi sebagai pengingat bahwa Bumi adalah sebuah planet yang dinamis dan terus-menerus mengalami perubahan.