China Uji Coba Robot Anjing dan Humanoid di Sistem Metro Hefei

China menerapkan sistem robot cluster pertama di metro Kota Hefei, Provinsi Anhui, melibatkan robot anjing, drone, dan humanoid untuk layanan serta inspeksi.

China memulai fase pengujian pada sistem transportasi massal masa depan, dengan mengintegrasikan beragam teknologi robotik seperti robot anjing, drone, dan robot humanoid ke dalam jaringan metro. Inovasi ini diklaim sebagai sistem robot cluster pertama di dunia yang mampu beroperasi secara komprehensif di seluruh area stasiun dan jalur kereta.

Penerapan teknologi canggih ini berlokasi di metro Kota Hefei, Provinsi Anhui, seperti dilaporkan oleh eWeek pada Rabu (8/4/2026) dan dikutip dari Detik iNET. Dalam serangkaian uji coba, berbagai jenis robot bekerja secara kolaboratif dengan staf manusia. Peran mereka mencakup membantu pelayanan penumpang dan melakukan inspeksi kritis terhadap infrastruktur.

Dalam arsitektur sistem ini, robot-robot tersebut tidak beroperasi secara terpisah. Mereka semua saling terhubung melalui sebuah platform terpusat yang berfungsi mengkoordinasikan setiap aktivitas. Robot humanoid bertanggung jawab memberikan informasi kepada penumpang, sementara robot anjing berpatroli di area peron, dan drone memantau kondisi terowongan.

Dai Rong, Direktur Science and Education Center di Hefei Rail Transit, menjelaskan bahwa platform robot ini berfokus pada tiga area utama: "layanan di stasiun, inspeksi kereta, dan inspeksi terowongan." Salah satu kontribusi penting robot adalah melakukan inspeksi teknis di area yang biasanya sulit dan berisiko bagi manusia.

Di bagian bawah kereta, robot otonom bergerak di jalur sempit untuk memeriksa komponen vital seperti roda dan baut. Mereka dilengkapi dengan kamera beresolusi tinggi dan sensor ultrasonik untuk deteksi detail. Pendekatan ini memungkinkan potensi kerusakan terdeteksi lebih cepat, tanpa harus menunggu pemeriksaan manual yang memakan banyak waktu.

Meskipun tampak futuristik, tujuan utama dari penggunaan robot ini bukanlah untuk menggantikan peran manusia. Sebaliknya, teknologi ini dirancang untuk mendukung pekerjaan yang berat dan bersifat repetitif. "Kami berharap teknologi ini bisa membantu staf, meningkatkan efisiensi kerja, dan mengurangi beban kerja," kata Dai Rong.

Ke depan, China merencanakan peningkatan kapabilitas sistem ini dengan menyematkan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang lebih canggih. Robot-robot tersebut akan dibekali 'otak pusat' yang berbasis model bahasa besar (Large Language Model) AI. Hal ini diharapkan memungkinkan robot mengambil keputusan lebih akurat dalam menghadapi situasi kompleks.

Luo Lei, supervisor senior di pusat tersebut, menyatakan, "Kami ingin memberikan 'otak' yang lebih baik agar robot bisa merespons situasi abnormal dengan lebih akurat." Implementasi robot di metro mencerminkan semakin dalamnya integrasi kecerdasan buatan dalam infrastruktur publik. Selain menaikkan efisiensi, teknologi ini juga berpotensi meningkatkan aspek keselamatan dan kualitas pelayanan transportasi.

Jika pengembangan terus berlanjut, sistem kolaborasi manusia-robot semacam ini berpeluang menjadi standar baru di berbagai kota besar di dunia. Kolaborasi ini akan membantu mengelola sistem transportasi yang semakin kompleks seiring waktu.

Recommended