Perusahaan data Cloudera mengumumkan peningkatan ekosistem data dan kecerdasan buatan (AI) miliknya di Jakarta pada Selasa (14/4/2026) untuk membantu modernisasi infrastruktur perusahaan. Langkah ini bertujuan mengatasi kendala biaya operasional yang tinggi dan kompleksitas upgrade sistem bagi pelaku industri di Indonesia.
Dilansir dari Medcom, Cloudera kini memperpanjang masa dukungan platform mereka hingga tahun 2032 sebagai bentuk kepastian operasional bagi pelanggan. Strategi ini dirancang agar organisasi dapat fokus pada inovasi analitik tanpa terbebani risiko migrasi data yang mahal.
Pembaruan ini mencakup fitur interoperabilitas terbuka dan skalabilitas elastis melalui teknologi Cloud Bursting. Fasilitas tersebut memungkinkan perusahaan meningkatkan kapasitas komputasi di cloud secara instan tanpa perlu melakukan pemindahan data fisik, sehingga menjaga keamanan dan efisiensi anggaran.
Peningkatan teknologi ini hadir di tengah proyeksi Gartner yang memperkirakan investasi AI global akan menyentuh angka USD3,33 triliun pada tahun 2027. Cloudera juga memperkenalkan Lakehouse Optimizer yang berfungsi mempercepat performa kueri pada tabel Apache Iceberg secara otomatis dan meminimalkan pengelolaan data manual.
Chief Product Officer Cloudera, Leo Brunnick, menyatakan bahwa pelanggan saat ini membutuhkan kontrol penuh atas pusat data dengan fleksibilitas yang setara dengan layanan cloud. Selain itu, kemampuan berbagi data antarplatform kini diperluas untuk mencegah munculnya silo informasi melalui akses tabel Iceberg yang lebih aman.
"Kami memberdayakan pelanggan di Indonesia untuk menskalakan beban kerja AI sesuai kebutuhan tanpa perlu memindahkan data mereka," kata Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia Cloudera. Pernyataan ini menegaskan relevansi solusi terbaru tersebut bagi kebutuhan pasar teknologi lokal yang terus berkembang.