Peran data real-time semakin krusial dalam memastikan kelancaran dan keselamatan selama musim mudik Lebaran. Diperkirakan lebih dari 143 juta orang akan melakukan perjalanan selama periode tersebut.
Sistem pemantauan real-time dan analitik cerdas menjadi alat bantu penting bagi otoritas untuk menjaga kesadaran situasional dan merespons insiden dengan cepat.
Kementerian Perhubungan memproyeksikan bahwa 143,91 juta orang, atau sekitar 50,6% dari populasi Indonesia, akan berpartisipasi dalam mudik Lebaran tahunan. Mobil pribadi masih menjadi moda transportasi utama dengan 76,24 juta pemudik, diikuti sepeda motor (24,08 juta) dan bus (23,34 juta).
Menurut Country Manager Axis Communications Indonesia, Johny Dermawan, teknologi pemantauan telah menjadi komponen penting dalam membantu pemangku kebijakan dan operator mengelola mobilitas selama periode lalu lintas padat. Sistem modern mampu menghasilkan data yang membantu otoritas memahami pola lalu lintas, mendeteksi insiden lebih awal, dan meningkatkan respons operasional.
Riset dari Thought Lab yang didukung oleh Axis Communications menyoroti bahwa data real-time memainkan peran penting dalam mengelola mobilitas perkotaan. Data yang dihasilkan dari sistem pemantauan membantu pemangku kebijakan di sektor transportasi mengoperasikan berbagai layanan secara lebih efektif, termasuk manajemen lalu lintas, sistem parkir, transportasi publik, dan platform mobilitas digital.
Key Account Manager End Customer Axis Communications, Vicky Gitasiswaya, menjelaskan bahwa sistem pemantauan modern yang dilengkapi dengan analitik cerdas dapat mendukung berbagai fungsi operasional dalam lingkungan transportasi.
Manajemen sinyal lalu lintas cerdas menjadi salah satu contohnya. Sistem pemantauan mengumpulkan data mengenai panjang antrean kendaraan di titik kemacetan, yang kemudian dianalisis untuk mengoptimalkan waktu lampu lalu lintas dan mengurangi titik kemacetan.
Deteksi insiden secara cepat juga didukung oleh teknologi pemantauan. Kamera yang dilengkapi dengan analitik dapat mengidentifikasi situasi tidak normal seperti kendaraan berhenti di jalur aktif atau perubahan arah yang tidak normal.
"Analitik yang tertanam dalam kamera jaringan dapat secara otomatis mendeteksi situasi jalan yang tidak normal dan mengirimkan peringatan kepada operator. Hal ini memungkinkan otoritas merespons lebih cepat dan meminimalkan dampak insiden terhadap arus lalu lintas," jelas Vicky.
Sistem kamera juga semakin banyak digunakan di dalam kendaraan transportasi seperti bus dan kereta, memungkinkan operator memantau aktivitas dari berbagai sudut secara real-time. Integrasi dengan jaringan pemantauan yang lebih luas memberikan gambaran situasional yang lebih komprehensif dan memungkinkan koordinasi yang lebih cepat selama insiden terjadi.
Integrasi berbagai sumber data pemantauan memungkinkan pengembangan pusat pemantauan terintegrasi, seperti Real-Time Crime Centers (RTCC). Dengan menggabungkan data dari kamera, radar, perangkat audio, dan analitik cerdas, pemangku kebijakan atau operator dapat memperoleh gambaran operasional yang lebih jelas dan mengkoordinasikan respons secara lebih efektif.
Johny Dermawan menambahkan bahwa meningkatnya adopsi sistem pemantauan berbasis data menjadi semakin penting dalam mendukung pengelolaan mobilitas berskala besar.
"Melalui teknologi pemantauan dan analitik berbasis jaringan, para pemangku kepentingan di sektor transportasi dapat meningkatkan keselamatan, efisiensi operasional, dan kualitas layanan. Pendekatan berbasis data seperti ini sangat penting untuk menjaga kelancaran mobilitas selama periode perjalanan puncak seperti musim mudik Lebaran," ujar Johny.