Drone Iran Jadi Tantangan, AS Akui Sulit Dicegat

Pejabat AS mengakui drone serang Shahed Iran sulit dicegat dan menjadi tantangan besar bagi pertahanan udara Amerika.

Drone serang Shahed milik Iran menjadi tantangan signifikan karena pertahanan udara Amerika Serikat diperkirakan tidak mampu mencegat semuanya. Pengakuan ini disampaikan pejabat pemerintahan Donald Trump kepada anggota parlemen dalam sebuah pengarahan tertutup di Capitol Hill.

Menurut sumber yang hadir dalam pengarahan tersebut, drone-drone ini menimbulkan masalah yang lebih besar dari perkiraan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine mengakui hal ini.

Salah satu alasannya adalah drone Iran terbang rendah dan lambat, sehingga lebih sulit dideteksi dan dicegat oleh pertahanan udara dibandingkan rudal balistik. Namun, sumber lain yang mengetahui jalannya pengarahan tersebut mengatakan bahwa para pejabat berupaya meredam kekhawatiran dan menyatakan bahwa negara-negara mitra di kawasan Teluk telah memiliki rudal pencegat.

Drone yang dimaksud kemungkinan besar adalah Shahed-136, yang dikenal relatif murah. Sejak AS dan Israel menyerang Teheran, lebih dari 1.000 drone, yang mayoritas diyakini Shahed-136, telah menargetkan negara-negara tetangga Iran.

Shahed-136 memiliki panjang 3,5 meter dengan rentang sayap 2,5 meter. Biaya produksi yang rendah dan kemudahan manufaktur, terutama dibandingkan dengan rudal balistik yang produksinya terbatas, membuat drone ini menjadi andalan dalam konflik.

Meskipun sebagian besar Shahed-136 relatif lambat, varian bermesin jet yang lebih cepat telah terlihat di Ukraina. Drone ini dapat membawa hulu ledak sekitar 50 kg, yang cukup untuk merusak gedung pencakar langit, tetapi tidak meruntuhkannya. Kebisingan, ukuran yang besar, dan gerakan menukik tajam saat mendekati target dapat memicu teror.

Para pejabat tersebut hadir di Capitol Hill untuk memberikan pengarahan kepada anggota parlemen di tengah meningkatnya eskalasi perang dengan Iran, yang berpotensi memicu krisis energi global dan mengganggu stabilitas Timur Tengah.

Senator Mark Kelly, politisi Demokrat dari Arizona yang duduk di Komite Angkatan Bersenjata Senat, memperingatkan tentang keterbatasan pasokan senjata AS. Kelly berkata:

"Pihak Iran memang punya kemampuan membuat banyak drone Shahed, rudal balistik, jarak menengah, jarak pendek dan mereka memiliki timbunan sangat besar. Jadi pada titik tertentu ini menjadi masalah matematika dan bagaimana kita bisa memasok kembali amunisi pertahanan udara. Dari mana amunisi itu akan datang?"

Recommended