Ericsson mendorong percepatan implementasi jaringan 5G di Indonesia guna memperkuat daya saing ekonomi digital nasional dalam gelaran Indotelko Forum 2026 di Jakarta, Jumat (8/5/2026). Infrastruktur tersebut dinilai krusial untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 melalui konektivitas berkecepatan tinggi dan berlatensi rendah.
Berdasarkan Ericsson Mobility Report yang dilansir dari Medcom, 5G menjadi generasi konektivitas dengan adopsi paling cepat di tingkat global saat ini. Jumlah pelanggan dunia diprediksi menyentuh angka 2,9 miliar pada akhir 2025 dan berpotensi melonjak hingga 6,4 miliar pada 2032 mendatang.
Laporan tersebut juga menunjukkan adanya tren lonjakan trafik data seluler yang diperkirakan tumbuh lebih dari dua kali lipat dalam periode waktu yang sama. Peningkatan ini sejalan dengan kebutuhan infrastruktur cerdas untuk mendukung berbagai aplikasi digital canggih di masa depan.
Potensi ekonomi dari teknologi ini sangat besar, di mana GSMA memperkirakan investasi 5G berkontribusi hingga USD41 miliar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sepanjang 2024–2030. Sektor manufaktur, logistik, energi, dan layanan publik diproyeksikan menjadi pengguna utama teknologi ini.
"Teknologi ini akan mempercepat transformasi digital Indonesia melalui jaringan yang andal untuk mendukung aplikasi digital canggih serta teknologi baru di berbagai sektor industri," jelas Nora Wahby, President Director Ericsson Indonesia.
Nora menekankan urgensi pembangunan infrastruktur yang aman, tangguh, dan cerdas demi merespons layanan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menuntut performa tinggi. Namun, Head of Government and Industry Relations Ericsson Indonesia, Ronni Nurmal, menyebut adopsi AI dan 5G domestik masih pada tahap awal dibanding negara tetangga.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) saat ini tengah menyiapkan proses pelelangan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Kepastian regulasi dan ketersediaan spektrum yang memadai menjadi prasyarat utama agar investasi infrastruktur digital ini dapat berjalan secara berkelanjutan di Indonesia.