Garmin Indonesia meresmikan Garmin Hybrid Lab di Jakarta pada Selasa (14/4/2026) sebagai pusat pelatihan berbasis data biometrik untuk mendukung performa atlet dalam kompetisi olahraga hybrid. Fasilitas ini dirancang untuk mengoptimalkan kombinasi kekuatan fisik dan pembacaan data tubuh secara akurat.
Pendekatan baru ini menitikberatkan pada penggunaan metrik seperti variabilitas detak jantung (HRV), VO2 Max, hingga kesiapan latihan atau Training Readiness. Dilansir dari Medcom, integrasi data ini bertujuan membantu atlet mengatur strategi latihan, pemulihan, dan kompetisi dengan lebih presisi.
"Melalui data biometrik yang akurat dari Garmin, setiap keputusan, mulai dari kapan berlatih, bagaimana mengatur pace, hingga kapan harus recovery, menjadi lebih terukur, presisi, dan berdampak langsung pada hasil akhir," ujar Chandrawidhi Desideriani, Marketing Communications Senior Manager Garmin Indonesia.
Dalam kompetisi hybrid, peserta wajib menggabungkan kekuatan anaerobik dari latihan fungsional dengan daya tahan aerobik saat berlari. Pengelolaan energi yang kompleks ini membuat atlet memerlukan pemantauan zona detak jantung guna menjaga efisiensi energi tetap optimal selama sesi berlangsung.
Pengguna dapat memanfaatkan fitur Custom Workout di ekosistem Garmin Connect untuk merancang hingga 16 segmen sesi latihan multisport yang mencakup lari dan HIIT. Seluruh data latihan akan diolah menjadi informasi mendalam seperti Training Effect, Training Load, hingga status pelatihan secara keseluruhan.
Sistem ini juga menyediakan fitur waktu pemulihan atau recovery time untuk meminimalkan risiko cedera dan kelelahan berlebih (overtraining). Garmin menekankan bahwa kekuatan teknologi mereka terletak pada ekosistem terintegrasi yang mengubah angka biometrik menjadi wawasan praktis bagi penggunanya.