Ancaman keamanan siber kembali menghantui dengan munculnya teknik baru bernama Zombie ZIP. Metode ini digunakan oleh hacker untuk menyembunyikan malware di dalam file ZIP agar tidak terdeteksi oleh antivirus. Teknik ini menjadi perhatian karena kemampuannya mengecoh sistem keamanan.
Zombie ZIP bekerja dengan cara memanipulasi struktur file ZIP, terutama pada bagian header atau metadata yang menyimpan informasi metode kompresi. Hacker mengubah informasi ini sehingga file terlihat tidak dikompresi, padahal sebenarnya masih terkompresi.
Antivirus yang hanya membaca metadata akan menganggap isi file sebagai data biasa dan tidak melakukan pemindaian lebih lanjut. Padahal, di dalamnya mungkin tersembunyi malware berbahaya yang siap dieksekusi.
File Zombie ZIP sering kali tampak rusak atau tidak dapat dibuka dengan aplikasi umum seperti WinRAR atau 7-Zip. Ini adalah bagian dari trik untuk mengelabui pengguna dan sistem keamanan. Pelaku biasanya menggunakan program khusus atau loader untuk mengekstrak isi sebenarnya dan menjalankan malware tersebut.
Peneliti dari CERT Coordination Center di Carnegie Mellon University menyoroti bahwa beberapa alat ekstraksi masih mampu memproses arsip ZIP yang telah dimodifikasi dan tetap mengeluarkan file berbahaya. Hal ini meningkatkan risiko ancaman Zombie ZIP.
Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar pengembang antivirus tidak hanya bergantung pada informasi metadata saat menganalisis file ZIP, tetapi juga memeriksa struktur dan isi file secara keseluruhan.
Menurut Techspot, teknik ini mampu melewati sekitar 98 persen mesin antivirus dalam pengujian. Hal ini menunjukkan adanya celah serius dalam cara antivirus memeriksa file arsip, yang terlalu bergantung pada metadata.
Kerentanan ini telah terdaftar dengan kode CVE-2026-0866 dan menjadi perhatian peneliti keamanan siber global. Mereka menilai pendekatan deteksi yang ada perlu diperbarui, terutama dalam menganalisis struktur file secara lebih mendalam.
Bagi pengguna, ancaman Zombie ZIP cukup berbahaya karena file ZIP merupakan format umum untuk berbagi data, termasuk melalui email dan unduhan internet. File yang terlihat rusak sekalipun tidak selalu aman.
Untuk menghindari risiko, pengguna disarankan agar tidak sembarangan membuka file ZIP dari sumber yang tidak dikenal, memastikan perangkat lunak keamanan selalu diperbarui, serta lebih waspada terhadap file arsip yang tidak bisa diekstrak secara normal.