Ilmuwan Cari Cara Bertahan Hidup dari Perang Nuklir

Ilmuwan mencari solusi agar manusia bisa bertahan dari kelaparan massal jika terjadi perang nuklir global dan musim dingin nuklir.

Ilmuwan mulai berupaya mencari metode bagi manusia untuk tetap bertahan hidup apabila terjadi perang nuklir global. Salah satu fokus utama adalah mencegah potensi kelaparan massal yang diperkirakan akan terjadi setelah fenomena musim dingin nuklir (nuclear winter).

Perang nuklir berpotensi besar memicu kebakaran dahsyat di berbagai wilayah perkotaan. Asap serta jelaga yang dihasilkan dari kebakaran tersebut dapat naik ke lapisan atmosfer dan menghalangi paparan sinar matahari selama bertahun-tahun. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan suhu bumi secara drastis dan berakibat pada anjloknya produksi pangan dunia.

Para peneliti kini berupaya mencari solusi agar sistem pangan tetap mampu bertahan dalam kondisi ekstrem tersebut. Salah satu gagasan yang muncul adalah menyiapkan agricultural resilience kits atau kit ketahanan pertanian. Kit ini berisi benih tanaman tertentu yang dinilai memiliki kemampuan lebih baik untuk bertahan hidup dalam kondisi dingin dan minim cahaya.

Tanaman-tanaman ini dipilih karena memiliki kemampuan untuk tumbuh dengan musim tanam yang lebih pendek, sekaligus tetap menghasilkan pangan meski produksi pertanian global mengalami penurunan.

Menurut para peneliti, pendekatan ini dapat membantu berbagai negara mempertahankan produksi makanan pada tahun-tahun awal pasca-perang nuklir.

"Kit ini dapat membantu mempertahankan produksi pangan selama tahun-tahun yang tidak stabil setelah perang nuklir," kata Armen Kemanian, ilmuwan pertanian dari Pennsylvania State University, seperti dikutip dari FirstPost.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perang nuklir berpotensi memberikan dampak besar pada sektor pertanian dunia. Jelaga yang menutupi atmosfer akan mengakibatkan penurunan intensitas sinar matahari yang mencapai permukaan bumi.

Kondisi ini menyebabkan penurunan suhu dan musim tanam yang jauh lebih pendek. Tanaman-tanaman utama seperti jagung dan gandum berisiko mengalami penurunan hasil panen yang signifikan. Oleh sebab itu, para ilmuwan menilai bahwa dunia perlu mulai memikirkan strategi ketahanan pangan, bahkan untuk menghadapi skenario bencana ekstrem seperti perang nuklir.

"Jika kita ingin bertahan hidup, kita harus mempersiapkan diri bahkan untuk konsekuensi yang sulit dibayangkan," ujar Yuning Shi, ilmuwan tanaman dan meteorolog dari Pennsylvania State University.

Para peneliti menekankan bahwa strategi ini tidak hanya relevan untuk menghadapi perang nuklir. Sistem pangan yang lebih tangguh juga dapat membantu menghadapi berbagai bencana global lainnya, seperti letusan gunung berapi besar atau perubahan iklim ekstrem.

Dengan menyiapkan benih yang tepat dan sistem distribusi yang baik, peluang manusia untuk bertahan dari krisis pangan global dinilai dapat meningkat secara signifikan.

Recommended