Xiaomi Indonesia memperkenalkan Xiaomi 17 Series, yang terdiri dari Xiaomi 17 dan Xiaomi 17 Ultra, di pasar Indonesia mulai 3 Maret 2026.
Kedua seri ini menawarkan standar baru dalam fotografi mobile berkat kolaborasi dengan Leica dan filosofi "Essential Leica Imagery". Filosofi ini menekankan kualitas gambar yang tajam, warna autentik, serta kemudahan akses dalam pengalaman fotografi.
Medcom.id berkesempatan menguji kualitas lensa Leica pada Xiaomi 17 dengan memotret berbagai lokasi autentik di Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah. Petualangan dimulai dari Pring Ledok Tinjon di Dusun Tinjon, Sleman.
Suasana pasar tradisional dan pengrajin wayang membangkitkan semangat untuk memotret dari berbagai sudut. Mode Leica Authentic pada Xiaomi 17 menghasilkan warna natural khas Leica, sementara Leica Summilux Optical Lens menghasilkan gambar yang tajam.
(Wajah pengrajin wayang ditangkap secara dramatis. Foto: Medcom/Syahrul Ramadhan)
Selanjutnya, perjalanan berlanjut ke sentra kerajinan payung Juwiring di Klaten, yang terkenal dengan warna-warni cerah serta motif bunga khas.
Penjelajahan fotografi kemudian berlanjut dengan menyaksikan pentas Ketoprak Tobong Kelana Bhakti Budaya di Sleman. Momen persiapan menjadi kesempatan untuk memotret suasana ruang temaram yang khas.
Kemampuan Xiaomi 17 diuji dalam kondisi minim cahaya, dan hasilnya gambar tetap berkualitas tajam. Saat pentas, smartphone ini mampu menangkap ekspresi para pemain ketoprak.
Setelah pentas Ketoprak Tobong, petualangan berlanjut ke Solo, mengunjungi industri kain batik dan kain pantai di Desa Krajan, Sukoharjo.
Kain-kain dengan beragam motif warna-warni berjejer di tepian Sungai Bengawan Solo. Terik matahari membuat warna kain semakin menyala.
Atraksi pengrajin yang melempar kain untuk dijemur juga menjadi daya tarik. Xiaomi 17 memungkinkan pengambilan gambar yang cepat berkat desainnya yang ringkas.
Lokasi terakhir adalah tempat pembuatan gong di Desa Wirun, Sukoharjo. Panasnya tempat para pengrajin gong menjadi tantangan tersendiri, mulai dari menahan panas hingga serbuk abu.
Perjalanan keliling Yogya dan Solo ini ditutup dengan mengunjungi Ndalem Purwodiningratan untuk memotret Bregada atau prajurit Keraton Surakarta yang mengenakan seragam sesuai kesatuan masing-masing.