Pesawat tempur F-35, aset termahal dan tercanggih milik Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF), sukses menghancurkan drone buatan Iran di wilayah udara Yordania. Insiden ini menandai meningkatnya ketegangan antara AS dan Israel melawan Iran.
Selain itu, peristiwa ini menjadi catatan sejarah bagi jet F-35 Inggris, sebagai yang pertama kali berhasil menembak jatuh target dalam operasi militer. Kementerian Pertahanan Inggris bahkan telah merilis video yang menunjukkan momen penghancuran drone tersebut.
Selain penghancuran oleh F-35, unit pasukan darat yang dilengkapi dengan senjata anti-drone berhasil melumpuhkan beberapa drone lainnya di wilayah udara Irak. Drone-drone ini diyakini mengancam pasukan koalisi. Di sisi lain, sebuah jet Typhoon berhasil menghancurkan drone serang kamikaze yang mengancam Qatar dengan menggunakan rudal udara ke udara.
Biaya rudal yang digunakan untuk menghancurkan drone-drone Iran tersebut diperkirakan jauh lebih mahal dari harga drone itu sendiri. Penggunaan pesawat tempur canggih memang bukanlah cara yang paling ekonomis untuk melumpuhkan armada drone.
Menanggapi ancaman rudal dan drone dari Iran, Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, mengumumkan bahwa Angkatan Laut Kerajaan telah mengerahkan kapal perusak Tipe 45, HMS Dragon. Langkah ini bertujuan untuk memperkuat pertahanan di sekitar pangkalan RAF Akrotiri di Siprus dan wilayah Teluk.
Kapal perang HMS Dragon yang berbasis di Portsmouth memiliki kemampuan untuk menembak jatuh rudal balistik dan rudal jelajah. Kapal ini dijadwalkan untuk segera berlayar dan diperkirakan akan memakan waktu lima hingga tujuh hari untuk mencapai zona konflik. Selain itu, Inggris juga mengirimkan dua helikopter Wildcat yang dipersenjatai dengan rudal anti-drone.
Dalam kondisi langit malam yang cerah di Yordania, seorang pilot F-35 Inggris melaksanakan penerbangan selama empat jam bersama dengan dua jet Typhoon. Kemudian, radar pesawat mendeteksi keberadaan dua drone Shahed. Pilot tersebut berhasil menghancurkan kedua drone itu dengan menggunakan dua rudal Asraam.
Keberhasilan ini menjadikan pilot tersebut sebagai pilot jet tempur siluman RAF pertama yang berhasil menghancurkan target dalam pertempuran. Dia menggambarkan misi tersebut memiliki risiko yang sangat tinggi, terutama karena potensi insiden salah tembak sangat besar dalam skenario udara yang padat.
"Ada banyak aset militer dari Amerika dan Israel lalu-lalang di area operasi. Jadi, fokus utama saya adalah mengidentifikasi target secara pasti sebelum melepas tembakan. Untungnya, saya dan para pilot Typhoon yang mengudara saat itu memiliki waktu yang cukup untuk memastikannya," ujarnya.
Pejabat militer meyakini bahwa pesawat tak berawak tersebut kemungkinan dikerahkan oleh Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon. Tujuan drone itu adalah hanggar yang menampung pesawat mata-mata AS. Drone tersebut berhasil menghindari sistem pertahanan di pangkalan tersebut, kemungkinan besar karena ukurannya yang kecil dan kecepatannya yang rendah.