Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengonfirmasi pada Rabu (29/4/2026) bahwa secara teknis Jupiter tidak mengorbit tepat di pusat Matahari, melainkan mengelilingi titik pusat massa bersama yang berada di luar permukaan sang surya.
Fenomena ini terjadi karena Jupiter memiliki massa yang sangat masif, yakni 318 kali lebih besar dari Bumi, sehingga memengaruhi keseimbangan gravitasi antara kedua objek langit tersebut.
Dilansir dari Detik iNET, Matahari memang mendominasi 99,86 persen massa di Tata Surya, namun sisa 0,14 persen massa yang ada cukup untuk menggeser pusat gravitasi orbital planet-planet besar.
Titik keseimbangan ini dikenal dengan istilah barycenter, yaitu pusat massa bersama di mana dua atau lebih objek langit yang saling terikat gravitasi melakukan orbit.
"Jupiter jauh lebih besar daripada Bumi. Massanya 318 kali lebih besar. Akibatnya, barycenter Jupiter dan Matahari tidak berada di pusat Matahari. Sebenarnya, letaknya tepat di luar permukaan Matahari," jelas NASA.
Kondisi ini berbeda dengan Bumi yang memiliki massa jauh lebih kecil, di mana titik barycenter-nya masih terletak sangat dekat dengan pusat inti Matahari.
Berdasarkan data yang dihimpun dari IFLScience, Jupiter menyumbang sekitar 70 persen dari total massa seluruh planet di Tata Surya, yang memberikan kekuatan gravitasi cukup besar untuk menarik titik orbit keluar dari tubuh Matahari.
Barycenter Tata Surya secara keseluruhan juga seringkali berada di luar volume Matahari akibat pengaruh gabungan dari massa planet gas raksasa lainnya seperti Saturnus.
Penjelasan ini secara teknis mengubah pemahaman umum di sekolah bahwa semua planet mengorbit tepat di tengah Matahari, karena pusat massa tersebut bersifat dinamis dan bergantung pada posisi objek-objek masif di sekitarnya.