Jurnalis ASEAN Manfaatkan AI untuk Pekerjaan

Survei menunjukkan 75% jurnalis di ASEAN memanfaatkan AI dalam pekerjaan jurnalistik mereka. Literasi data dan AI jadi modal utama.

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di kalangan jurnalis semakin meluas. Survei menunjukkan bahwa mayoritas jurnalis di negara-negara ASEAN telah mengadopsi teknologi ini dalam menyelesaikan tugas-tugas jurnalistik mereka.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengungkapkan bahwa tingkat familiaritas jurnalis di Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina terhadap AI sangat tinggi, mencapai 95 persen. Hal ini menandakan bahwa AI telah menjadi bagian integral dari lanskap media di kawasan tersebut.

Menurut survei, 75 persen jurnalis aktif menggunakan AI dalam pekerjaan mereka, dan 84 persen di antaranya menilai bahwa AI memberikan dampak positif. AI membantu mempercepat proses kerja jurnalistik dan membantu newsroom dalam berbagai aspek.

Hetifah mengingatkan agar jurnalis tidak salah dalam memanfaatkan AI. Menurutnya, jurnalis harus memiliki tiga modal utama, yaitu literasi data, literasi AI, serta kemampuan verifikasi isu.

"Di antaranya adalah literasi data, literasi AI, hingga kemampuan untuk melakukan verifikasi isu," papar dia.

Meskipun teknologi terus berkembang, Hetifah menekankan pentingnya prinsip-prinsip jurnalistik yang baik. Akurasi, verifikasi berlapis, kedalaman analisis, konteks, data, dan bukti sebagai basis tetap menjadi fondasi utama.

Hetifah menegaskan bahwa AI seharusnya berperan sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis. Keputusan editorial, verifikasi data, dan penilaian etika harus tetap berada di tangan manusia.

"Perlu ditegaskan bahwa keberadaan AI di ruang redaksi itu bukan untuk menggantikan jurnalis. AI seharusnya bisa berperan sebagai co-pilot atau alat bantu kita mempercepat proses kerja-kerja jurnalistik kita dan membantu newsroom dalam berbagai hal," kata Hetifah.

AI telah mengubah cara media diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi oleh publik. Meskipun demikian, Hetifah mengingatkan bahwa kendali manusia tetap krusial dalam proses jurnalistik.

"Nah tapi tetap keputusan editorial, verifikasi data, penilaian etika tentunya harus tetap berada di tangan manusia," ujar dia.

Recommended