Kota Kuno Maya Ditemukan Tenggelam di Danau Guatemala

Sebuah kota kuno peradaban Maya yang dijuluki

Keberadaan sebuah kota kuno peradaban Maya yang telah lama hilang kini berhasil dikonfirmasi di dasar Danau Atitlán, Guatemala. Penemuan spektakuler ini, yang dijuluki sebagai "Atlantis Maya", mengungkapkan seluruh struktur kota yang kini berada di bawah air.

Para arkeolog memastikan bahwa situs tersebut merupakan permukiman kuno yang tenggelam di Danau Atitlán, sebagaimana dilaporkan oleh Detik iNET yang mengutip Greek Reporter. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa lokasi ini adalah wilayah yang pernah dihuni manusia, bukan sekadar situs ritual yang sengaja ditenggelamkan atau kumpulan artefak biasa.

"Situs ini adalah permukiman kuno yang tenggelam akibat proses alami," jelas tim peneliti dalam studi mereka. Kota ini diperkirakan berasal dari periode Preklasik Akhir, sekitar tahun 350 SM hingga 250 Masehi. Karena seluruh bangunannya kini berada di bawah air, situs tersebut memang kerap disebut sebagai Atlantis Maya.

Namun, tidak seperti legenda Atlantis yang tenggelam secara misterius, kota ini diyakini terendam akibat kenaikan permukaan air dan perubahan alam yang bertahap. Lapisan sedimen di lokasi menunjukkan bahwa kawasan ini dulunya merupakan sebuah pulau sebelum akhirnya tenggelam.

Penemuan lokasi kota ini bukanlah tugas yang mudah. Area pencarian awal membentang hampir 6 kilometer persegi. Para ilmuwan kemudian memanfaatkan teknologi sonar untuk memetakan dasar danau dan mempersempit area penelusuran.

Setelah pemetaan awal, tim penyelam melakukan eksplorasi intensif selama beberapa hari hingga akhirnya berhasil menemukan struktur kota secara jelas. Aspek menarik dari penelitian ini adalah keterlibatan langsung komunitas Maya Tz'utujil, yang merupakan keturunan dari masyarakat yang dahulu membangun kota tersebut.

Helena Barba-Meinecke, seorang arkeolog terkemuka dalam penelitian ini, bekerja sama dengan tim internasional dan komunitas lokal di setiap tahapan proyek. Pendekatan kolaboratif ini tidak hanya memperkaya nilai ilmiah penelitian, tetapi juga memastikan penghormatan terhadap nilai budaya dan sejarah masyarakat setempat.

Para ilmuwan menduga bahwa tenggelamnya kota ini disebabkan oleh kombinasi faktor alam, termasuk aktivitas vulkanik, gempa bumi, dan curah hujan yang tinggi. Kenaikan permukaan air yang cepat menenggelamkan pulau tempat kota ini berdiri.

Kondisi bawah air justru membantu menjaga struktur bangunan tetap utuh hingga saat ini. Situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 1990-an oleh seorang penyelam bernama Roberto Samayoa. Ia awalnya menemukan artefak di dasar danau, sebelum kemudian menyadari bahwa itu adalah bagian dari kota yang lebih besar.

Sebagai bentuk penghormatan, situs ini kemudian dinamai Samabaj, gabungan dari nama penemunya dan kata 'abaj' yang dalam bahasa Maya berarti 'batu'. Penemuan ini menegaskan bahwa masih banyak bagian sejarah manusia yang tersembunyi, bahkan di bawah air.

Selain itu, situs Samabaj memberikan gambaran baru tentang bagaimana peradaban Maya berkembang dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Para peneliti berencana untuk melakukan eksplorasi lanjutan guna mengungkap lebih banyak rahasia dari "Atlantis Maya" ini.

Recommended