Seorang mahasiswa kedokteran berusia 22 tahun asal India terungkap menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memalsukan identitas sebagai influencer perempuan pendukung Donald Trump pada Februari 2026. Akun bernama Emily Hart tersebut sebelumnya viral di media sosial karena vokal menyuarakan gerakan Make America Great Again (MAGA).
Investigasi media internasional mengungkap bahwa sosok Emily Hart sepenuhnya fiktif dan dibuat menggunakan generator gambar berbasis AI. Dilansir dari Detik iNET, akun tersebut berhasil mengumpulkan 10 ribu pengikut hanya dalam waktu satu bulan dengan mengunggah konten terkait isu imigrasi, aborsi, dan politik konservatif.
Strategi penggunaan persona digital ini dilakukan berdasarkan rekomendasi AI yang menilai segmen pendukung MAGA memiliki loyalitas tinggi dan potensi monetisasi besar. Pembuat akun memanfaatkan konsistensi ekspresi dan gaya visual hasil AI untuk membangun kepercayaan pengikutnya di Amerika Serikat.
Keuntungan finansial diraup melalui penjualan merchandise bertema politik serta konten berbayar pada platform khusus kreator AI. Mahasiswa tersebut mengaku menghasilkan ribuan dolar per bulan, nilai yang sangat signifikan dibandingkan pendapatan rata-rata di negara asalnya.
Platform media sosial telah memblokir akun Emily Hart sejak Februari lalu karena terbukti melanggar kebijakan terkait penipuan dan penggunaan identitas palsu. Laporan The Independent menyebutkan bahwa fenomena ini menjadi peringatan akan risiko penyalahgunaan AI dalam memanipulasi opini publik melalui identitas fiktif.
Kasus ini menyoroti tantangan bagi platform digital dan pengguna internet dalam mendeteksi keaslian profil di tengah kemajuan teknologi generator gambar. Penggunaan AI untuk menciptakan influencer politik diperkirakan akan terus meningkat sebagai celah ekonomi baru bagi pelaku industri digital global.