Peneliti keamanan siber dari Check Point melaporkan temuan varian ransomware baru bernama Vect 2.0 yang secara permanen menghancurkan data korbannya pada Jumat (1/5/2026). Berbeda dengan ransomware konvensional, ancaman ini memiliki cacat desain pada sistem enkripsi yang membuat data tidak dapat dipulihkan meskipun korban telah membayar tebusan.
Dilansir dari Detik iNET, tim peneliti menemukan bahwa Vect 2.0 beroperasi lebih menyerupai malware penghapus data atau wiper daripada perangkat pemeras biasa. Cacat sistem ini ditemukan secara merata pada tiga platform yang menjadi target serangan, yakni Windows, Linux, dan lingkungan virtualisasi ESXi.
Kerusakan permanen terjadi karena adanya bug kritis dalam rutinitas enkripsi malware tersebut. Setiap file yang memiliki ukuran lebih dari 128KB dibagi menjadi empat fragmen data terpisah oleh sistem malware ini.
Secara teknis, setiap potongan data seharusnya dienkripsi menggunakan angka acak kriptografi atau nonce sebesar 12-byte. Namun, program peretas ini justru membuang tiga nonce pertama dan hanya menyimpan nonce keempat ke dalam file yang tersimpan di disk.
Kegagalan penyimpanan kode enkripsi tersebut mengakibatkan seluruh file di atas 128KB tertimpa oleh tumpukan data acak yang rusak. Hal ini menyebabkan berbagai dokumen operasional penting seperti database, spreadsheet, hingga image disk mesin virtual tidak mungkin bisa digunakan kembali.
Laporan Check Point juga menyoroti adanya kemitraan antara pengembang Vect dengan kelompok peretas TeamPCP pada awal tahun ini. Kerja sama tersebut bertujuan untuk memperluas jangkauan serangan rantai pasokan (supply-chain attack) ke berbagai jaringan perusahaan global.
Ironisnya, para mitra afiliasi diduga tidak mengetahui bahwa perangkat lunak yang mereka gunakan memiliki kesalahan pemrograman fatal. Selain merusak data, kinerja malware ini juga dilaporkan semakin lambat seiring berjalannya proses pemindaian file pada sistem korban.
Meskipun saat ini Vect 2.0 dianggap sebagai produk gagal karena kelalaian pembuatnya, ancaman ini diprediksi akan segera diperbaiki melalui pembaruan kode. Kelompok di balik malware tersebut kini telah mengumumkan operasi baru bernama Cloud Lockers yang menargetkan layanan penyimpanan awan.