Militer Amerika Serikat Gunakan AI Maven Gempur 1.000 Target di Iran

Militer AS gunakan sistem AI Maven untuk serang 1.000 target di Iran dalam 24 jam, namun satu serangan fatal hantam sekolah perempuan dan tewaskan warga.

Militer Amerika Serikat melancarkan gempuran masif terhadap lebih dari 1.000 target di Iran menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) pada Senin, 27 April 2026. Operasi skala besar dalam 24 jam pertama ini tercatat hampir dua kali lipat lebih luas dibandingkan agresi militer di Irak dua dekade silam.

Kecepatan operasional tersebut dicapai melalui implementasi Maven Smart System yang mempercepat proses identifikasi dan penguncian sasaran di medan perang. Dilansir dari Detik iNET, sistem ini mengintegrasikan citra satelit, data radar, hingga aktivitas media sosial untuk menyusun rantai penghancuran atau kill chain yang sangat efisien.

Maven menggabungkan teknologi visi komputer dengan manajemen alur kerja yang memungkinkan operator militer mengeksekusi target hanya dalam hitungan detik. Sebelumnya, proses analisis satu target bisa memakan waktu berjam-jam, namun teknologi ini mampu mendongkrak kapasitas serangan dari 100 target menjadi 1.000 target per hari.

Jurnalis Katrina Manson dalam bukunya yang berjudul Project Maven: A Marine Colonel, His Team, and the Dawn of AI Warfare, mengungkapkan bahwa kapasitas serangan bahkan bisa melonjak hingga 5.000 target per hari jika menggunakan tambahan teknologi Large Language Model (LLM).

Namun, akselerasi teknologi ini memicu tragedi kemanusiaan ketika salah satu rudal menghantam sebuah sekolah perempuan pada hari pertama serangan. Insiden tersebut mengakibatkan lebih dari 150 orang tewas, yang mayoritas korbannya adalah anak-anak sekolah.

Lokasi yang diserang tersebut sebelumnya merupakan bekas pangkalan angkatan laut Iran, tetapi statusnya telah terdaftar secara daring sebagai fasilitas pendidikan. Meski berfungsi sebagai sekolah, sistem gagal mengidentifikasi perubahan fungsi bangunan tersebut meskipun area taman bermain terlihat jelas dalam citra satelit.

Sejarawan teknologi Kevin Baker menilai kegagalan ini berakar pada kecepatan sistem yang melampaui kemampuan verifikasi manusia. Baker menekankan bahwa percepatan yang ditawarkan Maven menjadi penyebab utama jatuhnya korban sipil dalam skala besar.

"Bukan chatbot yang membunuh anak-anak itu. Manusia gagal memperbarui basis data, dan manusia lain membangun sebuah sistem yang bekerja terlalu cepat sehingga membuat kegagalan tersebut menjadi mematikan," kata Kevin Baker, sebagaimana dikutip dari The Guardian.

Pengembangan sistem ini awalnya digagas pada 2017 oleh perwira intelijen Marinir, Drew Cukor, sebagai eksperimen visi komputer pada rekaman drone. Proyek ini sempat mengalami kendala saat Google mundur sebagai kontraktor utama akibat gelombang protes dari karyawannya.

Pengerjaan proyek kemudian dilanjutkan oleh perusahaan analisis data Palantir dengan dukungan infrastruktur teknologi dari Microsoft, Amazon, dan Anthropic. Saat ini, sistem Maven telah diadopsi secara luas oleh seluruh cabang angkatan bersenjata Amerika Serikat dan mulai digunakan oleh organisasi pertahanan NATO.

Amerika Serikat kini dilaporkan tengah mengembangkan persenjataan otonom lainnya untuk masa depan, termasuk jet ski drone yang dilengkapi bahan peledak. Senjata-senjata baru ini dirancang untuk mampu melacak dan menghancurkan sasaran secara mandiri tanpa memerlukan persetujuan manual dari operator manusia.

Recommended