Umat Islam di Indonesia mulai mempersiapkan aspek administratif dan spiritual, termasuk pemantapan niat, menjelang pelaksanaan ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tahun 2026 ini. Niat merupakan syarat mutlak yang menentukan sah atau tidaknya penyembelihan hewan kurban di hadapan Allah SWT.
Dilansir dari Medcom, esensi niat bukan sekadar ucapan lisan, melainkan tekad kuat di dalam hati untuk beribadah. Tanpa adanya niat yang tulus saat penyembelihan atau penyerahan hewan, kegiatan tersebut hanya dinilai sebagai sembelihan biasa yang tidak memiliki nilai pahala kurban.
Waktu pengucapan niat bergantung pada teknis pelaksanaan di lapangan. Bagi individu yang menyembelih hewan kurbannya sendiri, niat wajib dibacakan sesaat sebelum proses penyembelihan dimulai untuk memastikan keselarasan antara tindakan dan tujuan ibadah.
Bagi warga yang menyalurkan hewan melalui panitia atau pihak ketiga, ibadah tetap dianggap sah selama pemilik hewan (shohibul kurban) telah berniat saat menyerahkan hewannya. Hal ini merujuk pada ketentuan dalam kitab Ar-Raudhah yang membolehkan niat didahulukan sebelum penyembelihan berlangsung.
Terdapat tiga jenis bacaan niat yang umum digunakan sesuai dengan peruntukannya. Untuk diri sendiri, bacaannya adalah "Nawaitu an udhahhi lillaahi ta’aala" yang berarti aku berniat kurban untuk diriku sendiri karena Allah SWT.
Sementara itu, untuk kurban atas nama keluarga, pekurban dapat membaca doa: "Allahumma hadzihi minka wa ilaika, fataqabbal minni yaa kariim". Kalimat ini mengandung makna bahwa hewan tersebut adalah nikmat dari Tuhan yang dikembalikan melalui jalan bertaqarrub.
Jika seseorang mewakili orang lain dalam berkurban, niat disesuaikan dengan menyebutkan nama yang diwakilkan. Niat ini berfungsi sebagai legalitas spiritual bahwa pahala dari hewan yang disembelih ditujukan bagi individu tersebut sesuai dengan syariat yang berlaku.
Praktik niat ini juga berfungsi sebagai refleksi spiritual untuk meneladani ketaatan mutlak Nabi Ibrahim AS. Secara filosofis, niat kurban menjadi simbol bagi umat Muslim untuk menanggalkan ego dan kecintaan duniawi demi mendekatkan diri kepada Sang Khalik.