Sejumlah ilmuwan mendeteksi kemunculan pola pemanasan anular tidak biasa di Samudra Pasifik pada April 2026 yang diprediksi dapat memicu fenomena Super El Nino di akhir tahun. Kondisi ini dikhawatirkan akan melonjakkan suhu global hingga melewati ambang batas kritis 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.
Dilansir dari Detik iNET, para peneliti mengamati kemunculan perairan hangat secara serentak di wilayah dekat Indonesia, lepas pantai Amerika Tengah, dan sepanjang Amerika Selatan. Ketiga titik panas tersebut membentuk pola melingkar atau 'cincin kehangatan' yang mengelilingi zona tengah yang lebih dingin.
Fenomena pemanasan melingkar ini tercatat sebagai pola terbesar yang pernah diamati dalam empat dekade terakhir. Samudra bagian atas dilaporkan menyimpan lebih banyak energi panas daripada yang dilepaskannya ke atmosfer, sehingga meningkatkan risiko cuaca ekstrem.
"Melalui serangkaian eksperimen model, kami menunjukkan bahwa kandungan panas saat ini cukup untuk menghasilkan peristiwa El Niño moderat menjelang akhir 2026, dan pemanasan anular yang saat ini kami amati di Pasifik dapat meningkatkan El Nino ini ke kategori super," kata Tao Lian, profesor di Second Institute of Oceanography.
Akumulasi panas ini terjadi setelah berakhirnya fase La Nina yang sempat memerangkap air hangat di bawah permukaan Pasifik barat. Saat ini, energi tersebut bergerak ke arah timur dan mulai meningkatkan suhu permukaan laut di sekitar wilayah ekuator.
Data pada Maret 2026 menunjukkan adanya hembusan angin barat yang kuat di Pasifik barat, sebuah sinyal yang sering mendahului terjadinya peristiwa El Nino besar. Pemanasan anular dinilai menjadi faktor pendorong terkuat yang dapat membawa sistem atmosfer menuju kondisi yang sangat ekstrem.
Kemunculan Super El Nino diperkirakan akan memberikan dampak signifikan secara global, termasuk risiko kekeringan parah di Asia Tenggara dan Australia. Sebaliknya, wilayah Amerika Selatan berpotensi menghadapi banjir besar akibat perubahan pola curah hujan yang drastis.
Sektor kelautan juga terancam dengan potensi pemutihan terumbu karang secara massal dan penurunan hasil tangkapan perikanan. Hingga saat ini, para ahli terus memantau pergerakan suhu air laut untuk memastikan apakah pola ini akan terus menguat atau berubah arah dalam beberapa bulan ke depan.