Pakar IPB Sebut Kemunculan Satwa Langka Akibat Fragmentasi Habitat

Pakar IPB University menjelaskan penyebab meningkatnya intensitas perjumpaan manusia dengan satwa langka di Indonesia bukan tanda kenaikan populasi.

Pakar konservasi satwa IPB University, Ani Mardiastuti, mengungkapkan bahwa intensitas perjumpaan manusia dengan satwa langka yang meningkat di berbagai wilayah Indonesia pada Selasa, 14 April 2026, bukan merupakan indikator kenaikan populasi hewan tersebut secara signifikan.

Kondisi ini justru dipicu oleh penyusutan serta fragmentasi habitat asli yang memaksa satwa keluar dari zona aman dan berpapasan dengan aktivitas manusia. Dilansir dari Medcom, fenomena tersebut sering kali disalahpahami masyarakat sebagai tanda perbaikan kondisi alam.

"Namun, karena habitat hutan mereka kini menyusut, semakin sedikit, dan terfragmentasi, serta manusia semakin merangsek ke wilayah habitat mereka, satwa-satwa tersebut akhirnya lebih sering berpapasan dengan manusia," papar Ani Mardiastuti, Pakar Konservasi Satwa IPB University.

Selain faktor kerusakan lingkungan, kemajuan teknologi deteksi menjadi alasan kedua di balik seringnya spesies langka ditemukan. Penggunaan kamera trap dengan sensor inframerah dan perangkat bioakustik memudahkan para peneliti merekam aktivitas satwa nokturnal yang sebelumnya sulit dipantau.

Penerapan kecerdasan buatan (AI) juga mulai digunakan untuk mempercepat proses identifikasi individu, seperti mengenali pola belang pada harimau. Teknologi drone turut dikerahkan untuk memonitor sarang burung pemangsa di lokasi ekstrem seperti tebing tinggi dan hutan mangrove.

Kemunculan kembali spesies yang dianggap hampir punah atau "Lazarus Species" juga sering kali merupakan hasil dari ekspedisi khusus yang dilakukan tim peneliti. Temuan-temuan ini nantinya akan digunakan pemerintah untuk menentukan status konservasi berdasarkan standar International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Dari sisi sosiologis, tantangan konservasi di Indonesia masih berbenturan dengan kebutuhan ekonomi masyarakat lokal. Ani mencontohkan penggunaan bulu burung cendrawasih untuk hiasan adat di Papua yang masih memerlukan penegakan hukum meski masyarakat adat memiliki kesadaran lingkungan.

Hingga saat ini, pendanaan riset untuk pencarian dan eksplorasi spesies baru masih menjadi kendala utama dalam pengembangan keanekaragaman hayati nasional. Ani berharap temuan-temuan terbaru dapat mendorong dukungan finansial yang lebih kuat bagi para peneliti di dalam negeri.

Recommended