Petir Megaflash Pecahkan Rekor Dunia, Jangkau 829 Kilometer

Sebuah petir super memecahkan rekor dunia dengan jangkauan 829 km, setara jarak Jakarta-Situbondo, Jawa Timur, telah dikonfirmasi oleh ilmuwan.

Sebuah fenomena alam luar biasa, petir super atau yang dikenal sebagai megaflash, berhasil memecahkan rekor dunia. Petir ini tercatat memiliki panjang mencapai 515 mil atau sekitar 829 kilometer, menjangkau jarak yang sebanding dengan perjalanan dari Jakarta hingga Situbondo, Jawa Timur. Kejadian dahsyat ini berlangsung pada tahun 2017 dan telah dikonfirmasi kebenarannya oleh para ilmuwan, sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Senin (30/3/2026).

Catatan terbaru mengenai rekor petir ini didokumentasikan dalam sebuah laporan di Bulletin of the American Meteorological Society. Sambaran petir yang membentang dari wilayah timur Texas hingga Kansas City, Missouri, ini melampaui rekor sebelumnya yang tercatat sejauh 477 mil atau 767 kilometer, terjadi pada bulan April 2020.

Randy Cerveny, seorang profesor dari Arizona State University yang turut berkontribusi dalam penelitian ini, menyatakan bahwa mereka baru memahami mekanisme di balik pembentukan petir megaflash. Petir megaflash didefinisikan sebagai sambaran petir yang melampaui panjang 62 mil atau hampir 100 kilometer. Sebagai perbandingan, sambaran petir pada umumnya memiliki ukuran kurang dari 10 mil atau setara 16 kilometer.

Michael Peterson dari Georgia Tech Research Institute menjelaskan bahwa megaflash terbentuk dari badai yang berlangsung lama, biasanya berdurasi 14 jam atau lebih. Berdasarkan analisis pengamatan satelit, kurang dari 1% badai petir mampu menghasilkan petir megaflash.

Proses Pengukuran dan Pengamatan

Cerveny bersama timnya melakukan pengukuran megaflash yang terjadi saat badai petir besar pada Oktober 2017. Mereka memanfaatkan instrumen berbasis luar angkasa dan melakukan pemeriksaan ulang terhadap pengamatan satelit. Data yang ditinjau berasal dari satelit GOES-16 milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), yang memiliki sistem pemetaan petir mampu mendeteksi sekitar satu juta sambaran petir setiap hari.

Cerveny, yang juga merupakan pelapor kejadian ekstrem cuaca dan iklim untuk Organisasi Meteorologi Dunia, menjelaskan bahwa satelit cuaca mereka dilengkapi peralatan deteksi petir yang sangat akurat. Alat ini mampu mendokumentasikan dengan presisi hingga milidetik kapan kilatan petir dimulai dan seberapa jauh jangkauannya.

Selama bertahun-tahun, deteksi dan pengukuran petir mengandalkan jaringan antena berbasis darat. Antena ini bertugas mendeteksi sinyal radio yang dipancarkan oleh petir untuk memperkirakan lokasi dan kecepatan rambatan sinyal berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai stasiun antena lainnya.

Meskipun megaflash tergolong langka, Cerveny menekankan bahwa tidak jarang sambaran petir mencapai jarak 10 hingga 15 mil (16-24 km) dari awan badai asalnya. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan tingkat bahaya. Cerveny juga menambahkan kemungkinan masih ada kejadian ekstrem yang lebih besar di masa mendatang, yang akan dapat diamati seiring dengan peningkatan kualitas pengukuran petir dari waktu ke waktu.

Recommended