Persaingan pasar smartphone di Indonesia pada tahun 2025 menunjukkan tekanan bagi posisi vivo. Menurut laporan Omdia, vendor ini menduduki peringkat kelima dengan perolehan pangsa pasar sebesar 15%.
Xiaomi memimpin pasar smartphone Indonesia dengan pangsa 19%, diikuti Transsion (18%), Samsung (17%), dan OPPO (16%). Persaingan ketat terlihat dari selisih pangsa pasar yang hanya 4 poin persentase di antara lima merek teratas.
Vivo masih menunjukkan agresivitasnya di segmen menengah dan 5G entry-level. Strategi ini menyasar konsumen yang baru pertama kali beralih ke perangkat, serta kelompok usia muda. "vivo tetap agresif di segmen 5G kelas menengah dan entry-level, dengan menargetkan pengguna yang baru pertama kali beralih ke perangkat 5G serta kelompok usia muda," dikutip dari TelecomLead, Senin (16/3/2026).
Fokus utama vivo dalam menjaga daya saingnya adalah segmen ponsel 5G dengan harga terjangkau. Di tengah tekanan pasar, lini ini menjadi andalan untuk tetap relevan dalam perebutan konsumen di Indonesia.
Pergeseran ke Era Value-First
Pasar smartphone Indonesia mengalami perubahan dengan memasuki era value-first. Keputusan pembelian lebih dipengaruhi oleh harga, bundling data, pengalaman software, dan integrasi ekosistem, daripada hanya spesifikasi hardware.
Vendor dituntut untuk tidak hanya menawarkan spesifikasi tinggi, tetapi juga menghadirkan produk dengan nilai yang sesuai dengan anggaran konsumen, terutama di kelas entry-level dan menengah. Bagi vivo, perubahan ini meningkatkan tingkat persaingan karena rival-rivalnya juga agresif di segmen harga terjangkau.
Tekanan di Pasar Asia Tenggara
Tekanan yang dihadapi vivo sejalan dengan kondisi pasar Asia Tenggara secara umum. Pengiriman smartphone di kawasan ini turun 1% secara tahunan pada kuartal III 2025 menjadi 25,6 juta unit. Penurunan ini menandai kontraksi tahunan selama tiga kuartal berturut-turut.
Di tingkat regional, vivo berada di posisi kelima dengan pengiriman 2,9 juta unit dan pangsa pasar 11%. Performa vivo ditopang oleh kehadiran SKU baru seri Y yang melengkapi lini menengah seri V. Analis Omdia menilai OPPO dan vivo lebih memprioritaskan value ketimbang volume.
Faktor Sensitivitas Harga Konsumen Indonesia
Konsumen di Indonesia sangat sensitif terhadap harga, dengan preferensi yang kuat pada smartphone 5G kelas menengah di bawah Rp 5 juta, pembelian offline dengan dukungan cicilan, bundling data, serta perangkat yang cocok untuk media sosial dan gaming.
Indonesia, bersama Filipina, termasuk pasar yang sangat peka terhadap harga. Agresivitas merek-merek yang bermain di segmen terjangkau memperketat persaingan, terutama di kelas entry-level dan mid-range. Vivo tidak hanya harus berhadapan dengan ketatnya persaingan lima besar, tetapi juga dengan karakter pasar yang menuntut harga kompetitif sekaligus fitur yang relevan.
Ekspansi 5G dan Dampaknya
Ekspansi 5G oleh operator seperti Telkomsel dan merger XL Axiata dengan Smartfren menjadi XLSMART mendorong adopsi handset 5G di Indonesia. Perkembangan ini membuka peluang bagi vendor dengan lini 5G terjangkau, tetapi juga membuat persaingan di kelas 5G entry-level semakin padat.
Secara keseluruhan, posisi vivo di pasar smartphone Indonesia pada tahun 2025 berada di bawah tekanan kuat. Segmen 5G entry-level dan menengah menjadi tumpuan utama vivo untuk menjaga daya saing di tengah gempuran merek lain.