Peretas Gunakan Taktik Kriptografi Pasca-Kuantum untuk Intimidasi Korban Ransomware

Kelompok ransomware Kyber menggunakan teknologi kriptografi pasca-kuantum sebagai trik psikologis untuk menakuti korban agar segera membayar tebusan.

Sebuah kelompok kejahatan siber mulai mengintegrasikan teknologi kriptografi pasca-kuantum ke dalam varian ransomware terbaru bernama Kyber untuk mengintimidasi para korbannya. Temuan mengenai pergeseran taktik operasional ini dilaporkan pada Senin (27/4/2026) setelah para peneliti mendeteksi penyisipan standar keamanan mutakhir tersebut.

Varian malware ini menggunakan algoritma ML-KEM atau Module-Lattice-based Key Encapsulation Mechanism, yang merupakan standar dari lembaga NIST untuk menghadapi ancaman komputer kuantum. Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, penggunaan teknologi ini sebenarnya lebih bertujuan untuk memberikan tekanan psikologis kepada korban daripada memberikan keunggulan teknis yang nyata.

Tim peneliti dari Rapid7 mengungkapkan bahwa pada sistem operasi Windows, malware Kyber menggunakan ML-KEM1024 untuk melindungi kunci AES-256 yang mengunci data korban. Meski terlihat canggih, mekanisme peretasan intinya dinilai masih sangat konvensional dan tidak memerlukan teknologi pasca-kuantum untuk dijalankan saat ini.

Peneliti juga menemukan inkonsistensi pada varian Kyber yang menyerang sistem VMware ESXi. Meski mengklaim menggunakan teknologi ML-KEM, versi tersebut faktanya masih mengandalkan kunci RSA 4096-bit yang sudah umum digunakan dalam industri keamanan siber selama bertahun-tahun.

Kehadiran komputer kuantum yang mampu membobol sistem enkripsi tradisional diperkirakan masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terwujud. Sementara itu, kelompok ransomware ini memberikan tekanan waktu yang sangat singkat, yakni hanya sekitar tujuh hari bagi korban untuk merespons tuntutan pembayaran tebusan.

"Pertama, ini adalah trik pemasaran (untuk menakuti) korban. Istilah 'enkripsi pasca-kuantum' terdengar jauh lebih mengerikan daripada sekadar mengatakan 'kami menggunakan AES'," ujar Anna Širokova, Peneliti Keamanan Senior di Rapid7.

Menurut Širokova, para peretas tidak mengkhawatirkan kemungkinan enkripsi mereka dibobol dalam sepuluh tahun ke depan, melainkan hanya menginginkan pembayaran tebusan dalam waktu 72 jam. Pemanfaatan teknologi ini dianggap mudah karena pustaka kode ML-KEM sudah tersedia secara luas di internet bagi siapa saja.

Evolusi taktik ini menunjukkan bahwa penjahat siber kini mulai memanfaatkan istilah-istilah riset kriptografi terbaru untuk memanipulasi pengambilan keputusan pihak manajemen perusahaan. Penggunaan istilah teknis yang kompleks sengaja ditujukan kepada pengambil keputusan non-teknis agar mereka merasa panik dan segera melakukan pembayaran.

Recommended