Country Manager Red Hat Indonesia, Vony Tjiu, menekankan urgensi pembangunan ekosistem kecerdasan buatan (AI) berbasis open source dalam ajang Red Hat Tech Day di Jakarta, Kamis (30/4/2026). Langkah ini bertujuan menekan ketergantungan industri pada satu vendor teknologi tertentu, khususnya Graphics Processing Unit (GPU) produksi Nvidia yang saat ini mendominasi pasar global.
Keterbatasan pasokan dalam rantai pasok GPU dunia dinilai menjadi hambatan serius bagi keberlanjutan inovasi teknologi di berbagai organisasi. Dilansir dari Medcom, adopsi AI yang sangat masif saat ini justru memicu tantangan baru berupa kompleksitas infrastruktur dan keterbatasan alat komputasi accelerator.
"Supply chain GPU menjadi isu. Kalau terlalu bergantung pada satu vendor, itu berisiko terhadap keberlanjutan inovasi," kata Vony Tjiu, Country Manager Red Hat Indonesia. Red Hat kini memperluas kolaborasi dengan produsen cip lain seperti Intel, AMD, serta penyedia GPU asal Asia untuk memberikan alternatif bagi pelaku industri.
Strategi yang diusung perusahaan perangkat lunak ini mencakup pendekatan fleksibel pada model AI, akselerator, hingga layanan cloud. Melalui sistem ini, organisasi dapat mengoperasikan model AI di berbagai infrastruktur tanpa harus merombak total investasi teknologi informasi yang sudah berjalan sebelumnya.
Selain masalah perangkat keras, Red Hat menyoroti perlunya pergeseran paradigma dari cloud-first menjadi cloud-smart. Penggunaan komputasi awan harus didasarkan pada nilai ekonomi dan kemampuan skala (scaling), bukan sekadar mengikuti tren lokasi penyimpanan data, termasuk pada sistem on-premise.
Pemanfaatan open source dianggap sebagai fondasi utama untuk mendemokratisasi inovasi AI agar tidak hanya dikuasai negara tertentu. Vony mengamati bahwa pengembangan model AI kini sudah mulai merata, tidak hanya berpusat di Amerika Serikat, tetapi juga tumbuh pesat di Korea Selatan dan China.
Indonesia diprediksi akan menguasai sekitar 40 persen ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2030 mendatang. Hal ini mendasari dorongan agar Indonesia segera bertransformasi dari sekadar konsumen menjadi produsen teknologi AI yang memiliki kedaulatan digital melalui penguatan konektivitas dan keamanan infrastruktur nasional.