Skandal Penyelundupan Chip AI Supermicro Guncang Industri Semikonduktor

Saham Supermicro anjlok setelah salah satu pendirinya didakwa menyelundupkan server AI canggih Nvidia ke China, memicu gugatan penipuan sekuritas.

Industri semikonduktor Amerika Serikat kembali diguncang kasus dugaan pelanggaran ekspor teknologi canggih. Salah satu pendiri Supermicro, Yih-Shyan Liaw, dituduh menggunakan metode rumit untuk menyelundupkan server kecerdasan buatan (AI) yang dilengkapi prosesor Nvidia mutakhir ke China, sebagaimana dilansir dari Detik iNET pada Kamis (2/4/2026).

Metode penyelundupan melibatkan pemesanan server AI melalui jaringan perantara, kemudian mengirimkannya ke China melalui makelar di Asia Tenggara. Pengiriman tersebut disamarkan dalam kotak tanpa merek untuk mengakali kontrol ekspor AS yang telah membatasi penjualan chip canggih ke perusahaan China sejak tahun 2022.

Otoritas federal telah mendakwa Liaw, seorang karyawan perusahaan, dan kontraktor luar atas tuduhan penyelundupan server senilai sekitar 2,5 miliar dolar AS. Berita ini menyebabkan saham Supermicro anjlok drastis hingga 30% dalam sehari setelah kabar tersebut tersebar.

Penyelidik menduga operasi yang dijalankan Liaw memanfaatkan pialang yang menempatkan pesanan sah untuk sistem yang dikemas dengan chip Nvidia. Server-server tersebut dikirim ke sebuah entitas di Asia Tenggara sebagai jalur transit, di mana barang kemudian dilabeli ulang dan diteruskan ke China.

Untuk mengaburkan jejak pengiriman, kelompok ini bahkan dilaporkan membuat ribuan server tiruan yang disimpan di gudang. Sementara itu, pihak Supermicro menyatakan tengah bekerja sama dengan otoritas dan menekankan bahwa mereka memiliki program kepatuhan yang kuat.

Dampak pada Saham dan Kepercayaan Investor

Gugatan penipuan sekuritas (securities fraud) kini diajukan oleh para pemegang saham terhadap Supermicro. Mereka menuduh perusahaan gagal mengungkapkan ketergantungan besar pada penjualan ilegal ke China yang signifikan menggelembungkan pendapatan serta harga saham.

Ekspor ilegal chip Nvidia bernilai tinggi ini diperkirakan menyumbang 2,5 miliar dolar AS (sekitar Rp41 triliun) terhadap pendapatan Supermicro pada tahun 2024. Jumlah tersebut setara dengan lebih dari 16% dari total pendapatan perusahaan yang mencapai 14,94 miliar dolar AS di tahun yang sama.

Ketika berita skandal ini mencuat, harga saham Supermicro ambruk hingga 33%, menghapus lebih dari 6 miliar dolar AS (sekitar Rp96 triliun) nilai pasar perusahaan.

Tinjauan Kebijakan AS dan Pasar Gelap Chip AI

Selama dua tahun terakhir, Amerika Serikat berupaya keras membatasi akses China terhadap kekuatan pemrosesan yang menggerakkan model AI modern. Meskipun China terus mengejar dalam pengembangan perangkat lunak, mereka masih sangat bergantung pada perangkat keras asing, terutama chip buatan Nvidia yang mendominasi 95% kapasitas pemprosesan AI global.

Kasus Supermicro ini mencerminkan pola pengalihan barang di pasar luar negeri yang semakin marak. Banyak jaringan pengepul memanfaatkan kompleksitas rantai pasok chip modern yang melibatkan desain di AS, fabrikasi di TSMC Taiwan, hingga perakitan akhir sebelum diperdagangkan melalui jaringan pengecer global yang rumit.

Anggota parlemen AS kini mendesak pengetatan aturan, termasuk usulan agar chip canggih dilengkapi teknologi pelacakan lokasi. Namun, para pemimpin industri meragukan langkah tersebut akan sepenuhnya menghentikan perdagangan ilegal, mengingat permintaan perangkat keras AI yang sangat tinggi dan margin keuntungan yang sangat menggiurkan bagi para penyelundup.

Kontradiksi Kebijakan dan Dorongan Pasar

Situasi ini menarik perhatian di tengah perubahan kebijakan yang kontradiktif. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan melakukan U-turn pada akhir tahun 2025 dengan mencabut larangan ekspor chip H200 ke China. Ini berarti beberapa chip yang sebelumnya harus diselundupkan kini bisa dijual secara legal.

Nvidia sendiri, melalui CEO Jensen Huang, telah mengonfirmasi penerimaan pesanan H200 dari pelanggan China dan mendapatkan lisensi dari pemerintah AS. Namun, ketidakpastian kebijakan dari Beijing serta dorongan untuk membangun model kecerdasan buatan (AI) tercanggih secepat mungkin, membuat beberapa perusahaan tetap memilih jalur pasar gelap untuk mendapatkan pasokan GPU AI.

Kontrol Internal Perusahaan Menjadi Sorotan

Rekam jejak internal Supermicro kini kembali menjadi perhatian. Auditor Ernst & Young sempat mengundurkan diri beberapa waktu lalu karena kekhawatiran terhadap kontrol internal perusahaan, seperti dikutip Detik iNET.

Recommended