Keterbukaan informasi besar-besaran dilakukan oleh SpaceX menjelang rencana penawaran saham perdana ke publik yang telah lama dinantikan.
Langkah go public ini membuat perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut mengungkap berbagai rincian rahasia, seperti laporan pengeluaran, laba, jajaran dewan direksi, hingga model bisnis mereka.
Saham perusahaan roket dan satelit ini nantinya akan diperdagangkan di pasar bursa dengan menggunakan simbol ticker SPCX.
Dilansir dari Detik iNET, SpaceX mengusung misi besar dalam keterbukaan informasi tersebut.
"membangun sistem dan teknologi yang diperlukan demi menjadikan kehidupan multiplanet, untuk memahami sifat sejati alam semesta, dan untuk membawa cahaya kesadaran ke bintang-bintang."
Demi mewujudkan target tersebut, armada satelit Starlink akan terus diproduksi dan diluncurkan secara berkala.
Pemanfaatan energi Matahari juga bakal dioptimalkan untuk menenagai teknologi kecerdasan buatan, sebelum akhirnya membangun pangkalan di Bulan serta kota di planet lain.
Ambisi besar ini membutuhkan pendanaan yang sangat masif, sehingga menjadi alasan utama bagi perusahaan untuk menggalang dana segar dari para investor.
Laporan keuangan menunjukkan pertumbuhan cepat perusahaan diiringi oleh angka kerugian yang tergolong raksasa.
Pendapatan tahun lalu tercatat mencapai USD 18,7 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 33% dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Kendati demikian, perusahaan secara akumulatif belum mencetak laba bersih yang konsisten.
Setelah mencatat keuntungan sebesar USD 791 juta pada 2024, performa keuangan kembali merosot dengan kerugian USD 4,9 miliar pada 2025.
Tren negatif ini melanjutkan performa tahun 2023 yang juga membukukan kerugian sebesar USD 4,6 miliar.
Kondisi merugi ini dipastikan masih terus berjalan sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026.
SpaceX menyatakan telah merugi sebesar USD 4,3 miliar pada kuartal pertama tahun ini, meskipun berhasil mengamankan pendapatan senilai USD 4,7 billion.
Tingginya angka pengeluaran dipicu oleh mahalnya operasional bisnis roket serta pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan dalam skala masif.
Total pengeluaran tahun lalu menyentuh USD 20,7 miliar, dengan alokasi terbesar senilai USD 12,7 miliar diarahkan khusus untuk sektor AI.
Sementara itu, korporasi mengalokasikan anggaran USD 4,2 miliar untuk operasional Starlink dan USD 3,8 miliar demi proyek antariksa lain termasuk pengembangan roket.
Manajemen memproyeksikan potensi pendapatan total yang dapat digarap dalam sejarah umat manusia mencapai USD 28,5 triliun.
Pasar raksasa tersebut mencakup solusi berbasis luar angkasa senilai USD 370 miliar dan sektor konektivitas sebesar USD 1,6 triliun.
Potensi konektivitas Starlink terdiri atas layanan pita lebar senilai USD 870 miliar serta jaringan seluler sebesar USD 740 miliar.
Sektor kecerdasan buatan menyumbang potensi terbesar dengan nilai mencapai USD 26,5 triliun.
Peluang AI mencakup proyek peluncuran pusat data ke luar angkasa senilai USD 2,4 triliun serta potensi langganan konsumen sebesar USD 760 miliar.
Manajemen juga membidik pendapatan dari iklan digital sebesar USD 600 miliar serta sektor aplikasi korporat yang bernilai USD 22,7 triliun.
Target fantastis ini didukung oleh rekam jejak perusahaan yang berhasil meluncurkan roket dan mendaratkan kembali booster secara utuh.
Keberhasilan teknologi mutakhir tersebut menjadi landasan utama bagi kepercayaan para investor terhadap lini bisnis milik Musk.
Optimisme pada sektor kecerdasan buatan ini juga mendorong keputusan penggabungan usaha antara SpaceX dengan xAI pada Februari lalu.
Aksi korporasi tersebut menghasilkan nilai valuasi gabungan kedua perusahaan yang ditaksir mencapai angka USD 1,25 triliun.