Laporan Jewish Institute for National Security of America (JINSA) menyebutkan bahwa lebih dari 90% proyektil seperti rudal dan drone Iran berhasil dicegat dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel. Namun, keberhasilan ini menyembunyikan kerugian besar.
Senjata Iran yang relatif murah terbukti sangat merusak dan efektif menguras persediaan rudal pencegat mahal yang dimiliki AS dan Israel. Pertahanan udara yang ada, dengan integrasi sistem dari AS, Israel, dan beberapa negara Arab, memang berhasil menghalau ancaman tersebut.
Sekretaris Pers AS, Karoline Leavitt, menyatakan, "Lebih dari 9.000 target musuh telah diserang hingga saat ini. Serangan rudal balistik dan drone Iran turun sekitar 90%," seperti dikutip dari Fox News.
Penempatan aset AS sebelum konflik, termasuk Terminal High Altitude Area Defense (THAAD), Patriot, dua kelompok kapal induk, dan sekitar 200 pesawat tempur, membantu menekan serangan awal Iran. Ari Cicurel, Direktur Asosiasi Kebijakan Luar Negeri JINSA, menyoroti adanya implikasi yang lebih besar dari sekadar pencegatan.
“Tingkat pencegatan rudal dan drone yang tinggi memang penting, tapi hanya menceritakan sebagian situasinya. Iran menyerang infrastruktur energi untuk mengacaukan pasar dan menggunakan munisi tandan (bom beranak) untuk mencapai tingkat presisi serangan yang lebih tinggi,” sebutnya.
Pakar Timur Tengah dari Institute for National Security Studies, Danny Citrinowicz, yang juga fellow di Atlantic Council, menekankan ketidakseimbangan biaya sebagai masalah utama. Menurutnya, Iran meluncurkan drone dengan harga sekitar $30.000, sementara pihak lawan menggunakan rudal jutaan dolar untuk mencegatnya.
Situasi serupa terjadi pada rudal balistik. Citrinowicz menjelaskan bahwa biaya pembuatan rudal di Iran mungkin hanya beberapa ratus ribu dolar, sementara rudal pencegatnya bisa mencapai jutaan dolar, terutama sistem seperti Arrow. Ia menambahkan bahwa produksi rudal lebih mudah dan cepat dibandingkan pembuatan pencegat.
Laporan JINSA juga memperingatkan bahwa persediaan senjata di kawasan tersebut mulai menipis. Beberapa negara Teluk dilaporkan telah menggunakan sebagian besar inventaris pencegat mereka. Bahrain diperkirakan telah menghabiskan hingga 87% rudal Patriot, sementara Uni Emirat Arab dan Kuwait telah menggunakan sekitar 75%, dan Qatar sekitar 40%.
Tekanan juga dirasakan oleh Israel. Laporan tersebut mencatat adanya indikasi penjatahan penggunaan, termasuk keputusan untuk tidak mencegat ancaman munisi tandan tertentu demi penghematan. Dinamika ini diperkirakan akan semakin memburuk seiring berjalannya waktu.
Iran terus beradaptasi dengan mengubah taktik dari serangan besar-besaran menjadi serangan yang lebih kecil namun lebih sering. Strategi ini bertujuan untuk mempertahankan tekanan berkelanjutan sambil secara bertahap menguras sumber daya pertahanan musuh. Serangan yang terus-menerus, meski dalam skala kecil, memaksa pihak yang bertahan untuk selalu waspada dan terus menggunakan pencegat.
Laporan tersebut menyoroti tantangan unik yang ditimbulkan oleh drone dibandingkan rudal balistik. Drone dapat diluncurkan dari platform bergerak dan terbang di ketinggian rendah, yang membuatnya lebih sulit dideteksi.
Sebagai contoh, Shahed-136 dengan berat sekitar 200 kilogram dapat diluncurkan dari rel yang dipasang pada pikap, memungkinkan kru untuk segera berpindah lokasi. Profil peluncuran yang sederhana ini memudahkan Iran untuk menyebar, menyembunyikan, dan menembak di bawah tekanan.
Iran juga menerapkan pelajaran dari perang di Ukraina dengan menggunakan drone yang lebih canggih, termasuk drone yang dipandu kabel serat optik yang kebal terhadap gangguan elektronik, serta varian yang lebih cepat bertenaga mesin jet.
Meskipun ada berbagai tantangan ini, laporan tersebut menekankan bahwa arsitektur pertahanan secara keseluruhan belum gagal. "Arsitekturnya masih bertahan, tetapi alurnya bergerak ke arah yang salah," kata Cicurel.