Tsutomu Yamaguchi Sandang Status Resmi Penyintas Ganda Bom Atom Jepang

Tsutomu Yamaguchi menjadi satu-satunya orang yang secara resmi diakui sebagai penyintas ledakan bom atom Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.

Pemerintah Jepang secara resmi mengakui Tsutomu Yamaguchi sebagai satu-satunya penyintas ganda (nijū hibakusha) dari ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. Pengakuan formal tersebut diberikan pada Maret 2009 setelah Yamaguchi terbukti berada di titik pusat ledakan di kedua kota tersebut.

Peristiwa tragis ini bermula pada 6 Agustus 1945 saat bom atom 'Little Boy' dijatuhkan di Hiroshima yang menewaskan lebih dari 140.000 jiwa hingga akhir tahun tersebut. Dilansir dari Detik iNET, Yamaguchi yang saat itu berusia 29 tahun sedang melakukan perjalanan bisnis dan berada di jalur ledakan saat kembali ke kantor untuk mengambil stempel identitasnya.

Bom Hiroshima yang dibawa pesawat B-29 Enola Gay meledak pada ketinggian 579 meter dengan daya ledak setara 15 kiloton TNT. Meskipun mengalami luka-luka akibat radiasi termal dan ledakan dahsyat, Yamaguchi berhasil selamat dan mencari perlindungan sebelum memutuskan pulang ke kampung halamannya di Nagasaki.

Dua hari berselang, tepatnya pada 8 Agustus 1945, Yamaguchi tiba di Nagasaki untuk berkumpul kembali bersama istri dan putranya. Namun, pada 9 Agustus 1945, militer Amerika Serikat menjatuhkan bom atom kedua jenis plutonium yang dijuluki 'Fat Man' di atas Lembah Urakami, Nagasaki.

Ledakan kedua ini memiliki kekuatan lebih besar, yakni sekitar 20-21 kiloton TNT, yang menewaskan sekitar 35.000 hingga 40.000 orang seketika. Yamaguchi kembali berhasil bertahan hidup dari gempuran nuklir tersebut meskipun puluhan ribu orang lainnya meninggal akibat luka bakar dan paparan radiasi jangka panjang.

Pasca-perang, Yamaguchi mendedikasikan hidupnya sebagai guru dan bekerja di Mitsubishi Heavy Industries sembari aktif menyuarakan penghapusan senjata nuklir. Pada usia 90 tahun, ia sempat menyampaikan permohonan perdamaian dan penghentian penggunaan senjata nuklir di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Paparan radiasi ganda yang saya alami sekarang menjadi catatan resmi pemerintah. Ini dapat menceritakan kepada generasi muda sejarah mengerikan pemboman atom bahkan setelah saya meninggal," kata Tsutomu Yamaguchi, dalam sesi wawancara pada tahun 2009.

Yamaguchi meninggal dunia pada 4 Januari 2010 di usia 93 tahun setelah berjuang melawan penyakit kanker perut. Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi satu-satunya individu yang memegang status resmi sebagai saksi hidup kehancuran nuklir di dua lokasi berbeda.

Recommended