Persaingan di pasar smartphone Indonesia semakin ketat dari 2025 hingga awal 2026. Dominasi Samsung Electronics dan OPPO mendapat tantangan serius dari Xiaomi dan Transsion Holdings (Infinix dan Tecno).
Menurut TelecomLead, perbedaan pangsa pasar antara lima vendor terbesar di Indonesia sangat tipis. Xiaomi memimpin dengan 19%, diikuti Transsion 18%, Samsung 17%, OPPO 16%, dan vivo 15%.
Xiaomi berhasil merebut posisi puncak berkat strategi harga yang agresif serta spesifikasi kompetitif di segmen entry-level hingga menengah.
"Xiaomi berhasil meraih posisi pertama pada tahun 2025, didorong oleh tingginya permintaan akan ponsel pintar yang kaya fitur dan fokus pada nilai, di segmen entry-level dan menengah," tulis TelcomLead dikutip Jumat, (13/3/2026).
Transsion tumbuh pesat melalui merek Tecno, Infinix, dan itel, menyasar konsumen yang sensitif terhadap harga. Penetrasi kuat di ritel offline menjadi kekuatan utama grup ini.
Samsung tetap menjadi vendor non-China terkuat dengan portofolio luas, dari lini premium Galaxy S hingga seri Galaxy A di kelas menengah. OPPO menjaga momentum dengan jaringan distribusi offline yang kuat dan fokus pemasaran pada kamera untuk menarik konsumen muda.
Vivo juga agresif di segmen 5G kelas menengah dan entry-level, terutama untuk pengguna muda yang baru beralih ke smartphone. Memasuki Januari 2026, persaingan semakin ketat. Samsung tercatat memegang pangsa pasar 16,47%, sementara OPPO 14,68%.
Transsion terus memperbesar pengiriman melalui smartphone 5G ultra-terjangkau dengan harga di bawah Rp 3 juta, dengan kontribusi 18,3% dari total pengiriman.
Berbeda dengan Indonesia, OPPO mengalami tekanan di pasar global. Counterpoint Research mencatat Apple Inc. memimpin pasar global dengan pertumbuhan 10% secara tahunan dan pangsa pasar 20% sepanjang 2025.
Kenaikan ini didukung peluncuran iPhone 17 yang mendapat respons positif, terutama di negara berkembang. Samsung berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 5% dan pangsa pasar 19%.
Xiaomi menempati posisi ketiga dengan pangsa pasar 13%, sedikit turun dibanding tahun sebelumnya. Vivo berada di posisi keempat dengan pertumbuhan 3% dan pangsa pasar stabil di 8%.
OPPO mencatat hasil negatif, berada di posisi kelima dengan pertumbuhan minus 4% secara tahunan.
Secara keseluruhan, pasar smartphone global mulai pulih setelah tekanan pascapandemi. Tahun lalu, pasar global tumbuh 2% berkat strategi pemasaran yang efektif, adopsi 5G, dan meningkatnya permintaan smartphone premium. Industri smartphone global kini mulai stabil, meskipun sempat tertekan kebijakan tarif.
Pertumbuhan terbesar datang dari Jepang, Timur Tengah, Afrika, dan sejumlah negara Asia.
Posisi OPPO di Indonesia masih cukup kuat. Namun, persaingan dipastikan akan semakin panas dengan agresivitas Xiaomi dan Transsion.