Sebuah teknik baru yang disebut Zombie ZIP memungkinkan malware disembunyikan di dalam file ZIP yang sengaja dirusak. Potensi bahaya dari metode ini adalah kemampuannya untuk menyebarkan malware tanpa terdeteksi oleh banyak program antivirus.
Teknik Zombie ZIP bekerja dengan memanipulasi header file ZIP, yang berisi metadata penting untuk software arsip dalam membaca isi file. Informasi seperti metode kompresi dan versi ada di dalam header.
Dalam metode ini, field metode kompresi dirusak. Aplikasi pengarsipan populer seperti 7-Zip dan WinRAR jadi tidak mengenali metode kompresi yang digunakan. Antivirus juga cenderung menganggap file tersebut sebagai data terkompresi yang rusak dan tidak berbahaya.
Data sebenarnya dikompresi menggunakan algoritma Deflate. Malware tetap tersembunyi di dalam arsip karena manipulasi metadata kompresi.
Penyerang dapat menyebarkan arsip ZIP yang tampak rusak. Payload berbahaya diekstrak menggunakan alat khusus yang mengabaikan informasi metode kompresi di header dan membaca aliran data mentah di dalam file.
Kerentanan ini dilacak sebagai CVE-2026-0866. Zombie ZIP diklaim mampu lolos dari 98% mesin antivirus yang diuji melalui VirusTotal, seperti dikutip dari Techspot, Rabu (18/3/2026).
Beberapa produk keamanan seperti Bitdefender, Kaspersky, dan Microsoft Defender tidak menandai arsip yang dimanipulasi sebagai ancaman dalam pengujian awal.
Namun, beberapa analis malware menilai file tersebut hanyalah arsip rusak atau terenkripsi yang memerlukan alat khusus untuk dibuka, mirip dengan file ZIP yang dilindungi kata sandi.
Peneliti dari CERT Coordination Center di Carnegie Mellon University menyebutkan beberapa alat ekstraksi masih dapat mengenali arsip yang dimodifikasi dan mengekstrak payload di dalamnya.
Pengembang antivirus disarankan untuk tidak hanya mengandalkan metadata arsip saat memindai file terkompresi. Pengguna diingatkan untuk berhati-hati saat membuka file ZIP dari sumber yang tidak terpercaya, karena arsip yang tampak rusak dapat menyembunyikan malware.