Peneliti sekaligus entrepreneur kecerdasan buatan (AI), Adryan Fitra Azyus, menegaskan pentingnya nalar kritis manusia dalam menghadapi transformasi AI yang kini telah bergeser menjadi mitra kognitif fundamental pada Selasa, 21 April 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara 2nd Dies Natalis UAG & 1st UAG International Symposium on Multidisciplinary Studies di Jakarta Selatan. Dilansir dari Medcom, Adryan menyebut AI modern kini bekerja berdasarkan data dan probabilitas mesin yang terus beradaptasi.
Evolusi teknologi ini memungkinkan mesin untuk mempelajari pola dan menghadapi ketidakpastian, berbeda dengan sistem lama yang kaku. Perubahan ini memberikan peluang besar bagi manusia karena mesin tidak lagi sekadar mengeksekusi perintah terprogram.
Adryan memaparkan tiga implementasi nyata AI, yakni pada pemeliharaan prediktif mesin jet pesawat, pengawasan anggaran publik secara real-time untuk pemerintah, dan personalisasi kurikulum di sektor pendidikan.
Penggunaan AI pada mesin pesawat memungkinkan deteksi degradasi sebelum kerusakan terjadi. Sementara itu, dalam tata kelola pemerintahan, platform analitik AI dapat mendeteksi anomali pengadaan barang untuk memperkuat transparansi bagi pemimpin daerah.
Meski memiliki kemampuan analitis yang tinggi, Adryan mengingatkan bahwa AI memiliki kelemahan signifikan berupa ketiadaan kompas moral dan empati. Ia menekankan bahwa mahasiswa yang menggunakan AI tanpa nalar kritis berisiko menjadi biodigital.
"AI membuat pembelajaran makin personal dan cepat. Tapi mesin tidak punya kebijaksanaan moral, tidak punya empati, tidak memahami konteks sosial yang kompleks," kata Adryan Fitra Azyus, Peneliti AI.
Terdapat pula fenomena black spot di mana AI memberikan jawaban meyakinkan namun tidak mampu menjelaskan logikanya. Hal ini memicu ilusi objektivitas, yakni kecenderungan pengguna mempercayai hasil AI secara mentah karena dianggap ilmiah.
Adryan menegaskan bahwa tanggung jawab akhir atas setiap keputusan tetap berada di tangan manusia. AI tetap memiliki potensi mengandung bias dan kesalahan konteks yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara moral oleh mesin tersebut.