Penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin meluas dalam industri kreatif, termasuk produksi film. Film sci-fi Indonesia berjudul "Pelangi di Mars" yang disutradarai Upie Guava, turut mengadopsi teknologi ini.
Alih-alih menghasilkan video AI instan melalui perintah teks seperti pada Gemini atau ChatGPT, film ini memanfaatkan AI sebagai alat produksi untuk motion capture (mocap). AI membantu menangkap gerakan aktor secara langsung di lokasi syuting, sehingga tidak memerlukan kostum sensor mahal yang biasanya dipakai di studio mocap profesional.
Dalam produksi film "Pelangi di Mars", tim menggunakan AI untuk membantu proses motion capture. Teknik ini menangkap gerakan aktor dan menerjemahkannya menjadi animasi karakter digital.
Umumnya, motion capture memerlukan kostum khusus dengan berbagai sensor. Peralatan ini mahal dan memerlukan sistem studio yang kompleks. Awalnya, tim produksi "Pelangi di Mars" juga berencana menggunakan cara ini, tetapi kemudian memilih pendekatan yang berbeda.
Upie Guava menjelaskan bahwa timnya mengembangkan sistem berbasis AI yang mampu menangkap gerakan aktor hanya dengan kamera. Aktor dapat bergerak secara langsung tanpa kostum motion capture.
Teknologi AI menganalisis gerakan tersebut dan menerjemahkannya menjadi data animasi untuk menggerakkan karakter digital. Menurut Upie, pendekatan ini memberikan keuntungan besar dalam penyutradaraan.
"Saya bisa langsung mengarahkan aktor di lokasi, bukan hanya animator," ujarnya kepada detikINET.
Batasan Penggunaan AI
Dalam animasi tradisional, sutradara bekerja dengan animator yang menerjemahkan gerakan karakter secara manual. Dengan motion capture berbasis AI, aktor dapat langsung memainkan karakter, sehingga ekspresi dan gerakan terasa lebih natural.
Selain itu, teknologi ini mempercepat proses produksi. Pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu lama kini lebih cepat karena AI mengotomatisasi proses teknis tertentu.
Meskipun demikian, Upie menegaskan bahwa ia tidak melihat AI sebagai ancaman bagi kreator.
"AI hanyalah tools. Ia belajar dari referensi yang dibuat manusia," kata Upie.
Upie juga memiliki batasan pribadi dalam penggunaan AI. Ia tidak merasa pantas mengklaim gambar atau video yang sepenuhnya dihasilkan AI melalui perintah teks sebagai karya pribadinya.
Namun, jika AI digunakan sebagai bagian dari proses kreatif yang lebih panjang, ia masih melihatnya sebagai bagian dari karya manusia.
Bagi Upie, teknologi seharusnya membuka ruang eksplorasi baru bagi para kreator. Dengan memanfaatkan AI secara tepat, produksi film dapat menjadi lebih fleksibel dan efisien tanpa menghilangkan peran manusia dalam proses kreatif.